
Islami.co (Jakarta) – Di era digital yang penuh dengan banjir informasi, banyak orang—terutama anak muda—terjebak dalam standar-standar hidup yang tampak sempurna. Hal ini, menurut Dr. Fahrudin Faiz, bisa menjadi awal dari siklus yang berbahaya: dimulai dari narsisme, kemudian kelelahan, dan akhirnya berujung pada depresi.
Hal tersebut ia sampaikan dalam Talkshow Milad ke-20 Pusat Studi al-Qur’an (PSQ) di Masjid Istiqlal Jakarta, Kamis (15/2). Dalam acara yang juga menghadirkan Habib Husein Jafar al-Haddar, Dr. Fahrudin Faiz mengutip pemikiran filsuf Korea Selatan, Byung-Chul Han, yang banyak mengkritik dampak negatif dunia digital terhadap kesehatan mental manusia modern.
“Anak-anak hari ini, karena banjir informasi, menemukan ideal-ideal hidup yang tinggi. Mereka bertemu banyak standar yang tampak sempurna—kesuksesan, kecerdasan, kesalehan—yang seolah menjadi tolok ukur keberhasilan hidup. Tapi pada akhirnya, kita tidak bisa memenuhi semua itu, meski sudah berusaha keras. Akibatnya, kita kelelahan,” ujar Dr. Fahrudin Faiz di hadapan para peserta talkshow.
Menurutnya, media sosial menjadi faktor utama dalam menciptakan standar-standar hidup yang sering kali tidak realistis. Banyak orang tanpa sadar terus-menerus membandingkan diri dengan kehidupan orang lain yang terlihat lebih sempurna di layar ponsel. Mereka berlomba-lomba menunjukkan pencapaian terbaiknya, baik dalam hal pendidikan, pekerjaan, bahkan dalam aspek spiritualitas dan moralitas.
“Aspek narsisme ini menegaskan bahwa orang mengakui kita sebagai orang baik dan hebat. Kita senang mendapatkan validasi dari orang lain, kita terus mencarinya. Tapi setiap hari mencari pengakuan itu melelahkan. Ketika kita tidak berhasil mencapainya, kita kecapean,” jelasnya.
Kelelahan akibat tekanan sosial di dunia maya ini bisa berdampak serius. Dr. Fahrudin Faiz menjelaskan bahwa seseorang yang terus-menerus membandingkan dirinya dengan standar-standar tinggi yang tidak bisa ia capai lama-lama akan kehilangan kepercayaan diri.
“Begitu kita kecapean, lama-lama kita mulai meragukan diri sendiri. Ternyata saya tidak sepintar yang saya kira, ternyata saya tidak sesaleh yang saya harapkan, ternyata saya tidak mampu. Lama-lama, kita depresi,” ungkapnya.
Fenomena ini semakin diperparah dengan budaya kerja dan produktivitas berlebihan yang juga dipopulerkan oleh media sosial. Banyak orang merasa bahwa hidup mereka tidak berarti jika tidak produktif atau tidak memiliki pencapaian tertentu. Dalam banyak kasus, individu yang mengalami kelelahan mental akhirnya kehilangan motivasi dan semangat hidup.
Sebagai solusi, Dr. Fahrudin Faiz menekankan pentingnya kesadaran diri dan kemampuan untuk memetakan posisi diri sendiri dalam kehidupan. Ia mengajak peserta talkshow untuk tidak mudah terjebak dalam ekspektasi sosial yang tidak sehat dan lebih fokus pada pertumbuhan diri yang nyata.
“Teman-teman harus mulai bisa memetakan diri dan memosisikan diri dengan bijak. Jangan sampai kita terjebak dalam siklus narsisme, kelelahan, lalu depresi. Jika tidak, seperti kata Byung-Chul Han, kita akan diawali dari narsis, kemudian kelelahan, dan akhirnya depresi,” pungkasnya.
(AN)