Dosa Jariyah Manusia Kepada Alam

Dosa Jariyah Manusia Kepada Alam

Tanggal 22 Maret kemarin diperingati sebagai Hari Air Sedunia. Peringatan tersebut mengingatkan kepada manusia agar menjaga kelestarian alam, jangan sampai melakukan dosa jariyah kepadanya.

Sebagaimana disebutkan dalam Q.S. al Anbiya’ (21) bahwa nabi Muhammad diutus kepada umat manusia adalah tidak lain adalah untuk menebar rahmat (welas asih)  ̶ wa ma arsalnaaka illaa rahmatan lil alamin. Misi tersebut tidak hanya terbatas bagi umat manusia saja, namun, lebih dari itu, diperuntukkan kepada seluruh alam semesta.

Perlu dipahami bahwa posisi manusia sebagai khalifah fil ardl (al Baqarah: 30) dari sekian banyak ciptaanNya bukan semata-mata karena manusia adalah ciptaan yang utama, menurut hemat penulis, lebih kepada alasan bahwa selain manusia tidak ada mahluk yang berani menerima titah tersebut.

Sehubungan dengan misi rahmat yang dibawa, penulis memahami bahwa kedudukan sebagai khalifah bisa diartikan pula sebagai duta rahmat. Dengan kata lain, manusia dianugerahi sebuah tugas besar untuk menjaga keseimbangan tatanan kehidupan di dunia; tidak hanya terfokus pada hubungan sesama manusia, tetapi juga hubungan dengan alam tanpa mengabaikan kewajiban menjaga hubungan harmonis dengan Tuhan.

Read More

Dalam perannya sebagai “khalifah,” manusia selayaknya juga memperhatikan dan menjaga kelestarian alam, yang salah satunya ialah dengan cara mengkampayekan pentingnya merawat alam menurut ajaran Islam.

Namun, pada kenyatannya tidak sedikit kerusakan yang terjadi atas ulah manusia. Tidak jarang sekelompok orang seringkali mengabaikan kelestarian alam hanya demi memenuhi hajat hidupnya dan kelompoknya.

Seperti contoh kasus pembakaran hutan secara liar yang kerap kali terjadi di Negara ini. Langkah ini diambil sebagai langkah instan untuk membuka lahan baru baik untuk pertanian, perkebunan maupun industri. Dan tidak bisa dipungkiri, hal tersebut merupakan contoh keserakahan manusia yang lupa akan tugasnya sebagai duta rahmat di muka bumi.

Sebagai refleksi peringatan Hari Air Sedunia kemarin (22 Maret), manusia sebagai duta rahmat, sepatutnya perlu untuk mengkampanyekan pola kehidupan yang memperhatikan kelestarian alam. Jika alam tidak dijaga, maka seluruh umat manusia akan merasakan akibatnya. Salah satunya adalah problem kelangkaan air.

Bisa dibayangkan, jika disatu daerah air menjadi langka dan susah didapatkan, tidak hanya dalam tataran kebutuhan jasmani yang kemudian terkendala, kebutuhan rohani dan spiritual pun akan terganggu.

Di dunia ini, setiap agama dan kepercayaan pasti mempunyai ritual bahwa air menjadi unsur utamanya. Dalam ajaran Hindu, air (yang secara spesifik disebut dengan tirta) melambangkan kesucian dan pemurnian rohani. Sedangkan dalam Islam, untuk melakukan sholat, seorang harus mensucikan diri terlebih dahulu dan proses penyucian itu adalah dengan menggunakan air (berwudlu).

Salah satu cara untuk menjaga kelestarian alam, menurut penulis, sebagaimana misi Islam pada tataran praktiknya adalah  dengan penggunaan konsep-konsep ajaran Islam itu sendiri dalam usaha merawat alam.

Berdasarkan hasil riset PEW Research Center pada tahun 2015, masyarakat Indonesia menempati peringkat ketiga dunia yang menganggap bahwa agama sangatlah penting bagi kehidupan.

Maka tidaklah berlebihan jika penulis berkeyakinan bahwa masyarakat Indonesia akan lebih peduli dengan lingkungan jika cara yang digunakan adalah dengan menggunakan konsep-konsep agama. Setidaknya kampanye untuk merawat alam atas nama agama ini adalah sebuah gagasan yang lebih elegan dan bermanfaat dari pada membawa nama agama untuk kampanye politik.

Contoh konsep-konsep agama yang bisa digunakan adalah sedekah dan dosa jariyah. Untuk konsep yang pertama, dalam peraktiknya seperti telah dilakukan oleh komunitas dan Pemerintah Daerah Banyuwangi dalam aksi sosial penanaman pohon dengan istilah “sedekah oksigen.” Dengan mengikuti kegiatan ini, masyarakat tidak hanya merawat alam namun mereka juga telah beribadah dengan bersedekah oksigen melalui pohon yang ditanam.

Sedangkan konsep dosa jariyah, yakni dosa yang terus mengalir, bisa digunakan untuk mengkampanyekan kepedulian lingkungan seperti dengan tidak membuang sampah sembarangan. Karena dengan melakukannya, perbuatan tersebut akan ditiru oleh orang lain dan begitu seterusnya sehingga orang yang pertama kali melakukan akan mendapatkan dosa dari perbuatannya sendiri dan kiriman dosa dari orang yang menirunya.

Akhir kata, penulis membayangkan, sandainya para ustadz, guru ngaji dan para tokoh agama mengkampanyekan gerakan peduli lingkungan yang merujuk pada ajaran Islam dalam setiap ceramah dan ngajinya; maka selanjutnya, kita akan menemukan generasi Islam yang peduli dengan lingkungan dan benar-benar mewujudkan Islam yang penuh dengan rahmat bagi seluruh alam. Wallahu a’lam…

Aminuddin Hamid, penulis adalah pelajar di CRCS UGM Yogyakarta.