Dilema Ceramah Tanya-Jawab Ala Ustadz Abdul Somad

Dilema Ceramah Tanya-Jawab Ala Ustadz Abdul Somad

Seorang kawan dekat penganut Katolik yang sehari-harinya doyan banget bercanda berkata: “Duh, hatiku kok panas beneran ini ya lihat video UAS itu….”

Ya, dia hanya sedang mengungkapkan rasa kecewa dan kesal di lingkup kecilnya. Dan dia memang pantas untuk kecewa dan kesal. Untungnya, sejurus kemudian, ia telah kembali jadi dirinya yang gemar terbahak dan bercanda. Namun, tentu saja, torehan luka di perasaannya takkan pernah hilang. Ingatannya pada ceramah Ustad Abdul Somad (AS) tentang salib itu tetap akan menggenang di pikiran dan perasaannya. Bagaimana bisa ingatan dan kenangan dihapuskan dari kehidupan seseorang?

Saya termasuk orang yang kagum sama keluasan ilmu UAS, juga candaan-candaannya. Saya kerap menyimak video-videonya.

Read More

Pernah saya menemukan satu videonya yang menjawab dengan jernih pertanyaan tentang apakah ibunda Rasul SAW, Siti Aminah, akan masuk neraka –jawaban UAS membuat saya terkesima. Saya menitikkan air mata dan bergumam dalam hati: “Bagaimana mungkin ada mukmin yang sanggup bertanya begitu rupa; mempertanyakan penjagaan Allah SWT terhadap kekudusan nasab Rasul SAW, yang karenanya lah alam semesta ini, termasuk saya dan sang penanya, diciptakan-Nya?”

Begitulah kiranya kita memahami derajat tinggi kompetensi keilmuan UAS. Umat membutuhkan pemcerahan dari ilmu-ilmu yang ditaklimkannya.

Dan tepat di titik ini jugalah saya berpikir betapa UAS ini mesti semakin membijaksana. Semakin cermat, teliti, dan berhikmah. Ya, sebab dia anutan, influencer besar, secara moral ia seturut bertanggung jawab terhadap kemaslahatan besar kehidupan umat dan bangsa ini.

Maqam inilah yang akan menjadi ujian besarnya. Kita doakan bersama semoga dia bisa semakin berhikmah dalam mensyiarkan ceramah-ceramahnya. Amin….

Salah satu gaya panggung UAS yang cukup dilematis ialah tanya-jawab langsung via soal-soal yang dituliskan itu. Model ceramah begini selain mengandung manfaat, juga sangat tak kecil potensi risikonya bila kurang bisa dikelola bijaksana.

Tanya-jawab langsung begitu jelas tidak menyediakan jeda, ruang, dan waktu yang memadai bagi diri untuk berpikir panjang, apalagi merenung-renung dengan saksama.

UAS selalu berperaga sigap menjawab semua pertanyaan dengan langsung, cepat, dan spontan. Ini memperlihatkan kacakapan ilmunya memang di satu sisi. Akan tetapi, di sisi lain, kita telah menyaksikan dua akibat fatal dari gaya panggungnya ini.

Pertama, ketika dia kebablasan membercandai Rina Nose dengan ungkapan body shamming. Sungguh itu tak patut sama sekali. Itu meruah jadi ontran-ontran di masyarakat. Saya tak tahu, apakah UAS telah meminta maaf kepada Rina atau tidak –semoga dia telah melakukannya demi menebus syariat maaf.

Kedua, ini yang baru saja viral, yang juga disesalkan kawan Katolik saya di atas, yakni jawabannya dalam intonasi yang sedemikian rupa “bercanda” bahwa di dalam salib itu dihuni jin kafir. Jin kafir itu masuk melalui patung di salib itu, tuturnya. “Kepala patung itu menoleh ke kanan atau ke kiri, ya?” tanyanya dengan bercanda. Duh….

Ia masih melanjutkan: maka jika ada kerabat Anda dirawat di rumah sakit yang ada salibnya, dikhawatirkan ia mati su’ul khatimah. Mereka akan selalu mengusahakan: jika orang Islam tidak bisa dikafirkan dalam hidupnya, maka akan dikafirkan jelang matinya; jika tak bisa jelang matinya, maka setelah matinya pun tak mengapa, yakni diangkut pakai nguing….nguing…nguing….. (menunjuk ke ambulance).

Ah, UAS, UAS, sayang sekali, sungguh saya menyayangkan ungkapan panggung macam ini, apalagi dari sosok influencer besar macam UAS.

Dapat diterka betapa jawaban tersebut bersumber dari “ngarang bebas” belaka hingga terjun seterjun-terjunnya. UAS tak menampilkan dirinya yang berilmu luas sama sekali di titik ini. Negeri yang majemuk ini pun menjadi hiruk-pikuk karena jawaban spontannya itu.

Inilah bukti nyata betapa acap berbahayanya gaya ceramah tanya-jawab itu.

Saya teringat sebuah nasihat dari Imam Suyuthi yang mengatakan bahwa di antara tanda kealiman seseorang ialah hendaknya ia berkata wallahu ‘alam bish shawab dalam setiap perkataannya.

Ungkapan wallahu ‘alam bish shawab menisbatkan banyak hal:

Pertama, kerendahan hati bahwa diri ini tak benar-benar tahu benar terhadap hakikat kebenaran dalam begitu banyak hal dan soal dalam kehidupan masyaraka dan umat Islam sendiri, walaupun boleh jadi secara suatu perspektif keilmuan kita benar-benar memahaminya atau agak memahaminya. Ungkapan tersebut mengandaikan pesan moral sebaliknya bahwa wallahu ya’lamu wa antum la ta’lamun, Allah Swt lah yang mengetahui dan kamu tidak mengetahui.

Kedua, menyelamatkan diri dari risiko berandai-andai yang kebablasan. Mesti diingat selalu bahwa takwil atau penjelasan hukum dari seorang tokoh publik bagi sejumlah jamaahnya akan membekas erat jadi genggaman konklusi kebenaran. Andaian-andaiannya pun bisa saja lalu dianut sebagai kemutlakan kebenaran, dibawa ke mana-mana sepanjang hidupnya, bahkan ditularkan secara jariyah ke lingkungannya.

Ketiga, menjadi perisai diri untuk tetap istiqamah menempatkan diri sebagai sang dhaif, sang faqir, yang justru dengan sikap demikianlah bisa ruah kontribusinya bagi kemaslahatan yang lebih besar (seperti harmoni bangsa yang mejemuk ini) dibanding potensi kemaslahatan kecil yang disangka ada.

Keempat, cermin kealiman yang hakiki dan kedalaman rohani yang jernih.

Sungguh tak ada ketercelaan martabat diri dan ilmu bagi siapa pun untuk mengatakan “saya kurang tahu” atau wallahu ‘alam bish shawab itu. Kepakaran keislaman kita takkan terberangus hanya karena kita mengatakan secara terbuka bahwa kita tidak tahu, kurang tahu, maka wallahu ‘alam bish shawab.

Saya sungguh mendamba UAS senantiasa mengedepankan prinsip begini dalam gaya panggung tanya-jawabnya, bukan hanya kepada pertanyaan-pertanyaan yang memang kurang dikuasainya, tetapi sekaligus kepada pertanyaan-pertanyaan yang sensitif bagi maslahat kemajemukan bangsa ini. Dengan cara demikianlah saya mendoakan UAS akan diingat dan dikenang oleh bangsa ini….

Tak semua pertanyaan mesti dijawab terbuka, tak semua hal bisa dibercandakan, dan tak semua orang mesti disenangkan dengan takwil-takwil yang penuh risiko demi menjaga kebahagiaan publik yang lebih luas dan majemuk. Dar-ul mafasid muqaddamun ‘ala jalbil mashalih….

Sekali lagi, mari kita doakan UAS….