Debat Publik Sontoloyo antara Fans Prabowo dan Jokowi

Debat Publik Sontoloyo antara Fans Prabowo dan Jokowi

Debat publik kita kian tidak menarik, seolah Jokowi dan Prabowo enggak boleh salah

DEBAT PUBLIK SONTOLOYO

Bagi Juergen Habermas, debat publik setidaknya mempunyai 3 fungsi utama, yakni : 1) untuk menuntun nalar berpikir agar tdk mengalami fallacy, 2) untuk menguji keshahihan sebuah argumen, dan 3) untuk mencari kesepakatan publik yang akan berujung pada tindakan publik., sebuah tindakan kolektif yang tumbuh atas dasar kesadaran kolektif.

Habermas menyebutnya sebagaig “tindakan rasional komunikatif“. Untuk mencapai cita ideal itu, debat publik harus menjauh dari intervensi like/dislike (power) dan untung/rugi (ekonomi). Kolonisasi power dan ekonomi harus dieliminasi sedemikian rupa. Debat publik menjadi bermutu jika ditujukan utk mencari titik-temu kesepakatan publik. Bagaimana di Indonesia ??

Read More

Di Indonesia, ntervensi sekat-sekat primordial seperti agama, ras, atau afiliasi politik masih dianggap hal penting dalam berdebat. Akibatnya, debat publik menjadi sebentuk perkelahian tanpa ujung. Apalagi, jika debat itu dibumbui dengan kebencian pada personal atau agama. Substansi perdebatan menjadi kabur.

Di luar itu, kita akan putus-asa menyimak perdebatan antara mereka yang pro Jokowi dengan yang Pro Prabowo. Argumen-argumen perdebatan banyak yang “lepas”, melulu hanya untuk membela junjungan masing-masing. Jokowi dan Prabowo adalah seorang Santo yang tidak boleh salah.

Di titik ini, demokrasi di Indonesia tidak menghasilkan apa-apa. Perdebatan menguras energi dan emosi tapi tidak berujung menjadi tindak publik atas dasar kesadaran kolektif. Sebuah demokrasi hampa makna. Sebuah debat publik Sontoloyo.