Dari PPI Suriah Hingga Mer-C, Ragukan Penggalangan Bantuan Atas Nama Ghouta

Dari PPI Suriah Hingga Mer-C, Ragukan Penggalangan Bantuan Atas Nama Ghouta

PPI Suriah dan Ikatan Alumni Syam (Alsyami) meragukan bantuan ACT tersebut bisa masuk ke Ghouta.

Dari PPI Suriah Hingga Mer-C, Ragukan Penggalangan Bantuan Atas Nama Ghouta

Ghouta merupakan salah satu wilayah Suriah yang masih dikendalikan para pemberontak. Beberapa aksi sosial dilakukan untuk membantu krisis di Ghouta. Tagar #SaveGhouta mulai viral di media sosial. Di Indonesia, Aksi Cepat Tanggap (ACT) menjadi yang terdepan dalam kampanye ini.

“Hingga Senin pekan lalu, donasi yang terkumpul untuk Ghouta mencapai 11,6 miliar rupiah,” tutur juru bicara ACT, Lukman Aziz Kurniawan sebagaimana dikutip INDOPRESS.ID.

Di sisi lain, PPI Suriah dan Ikatan Alumni Syam (Alsyami) meragukan bantuan ACT tersebut bisa masuk ke Ghouta. Pasalnya, serdadu pemberontak kerap menimbun sebagian bantuan untuk kepentingan mereka sendiri.

“ACT masuk ke Suriah secara ilegal alias tanpa izin pemerintahan,” tutur Ketua Perhimpunan Pelajar Indonesia di Suriah, Muhammad Arief Rahman.

 

Menurut Sekjen Alsyami, Najih Arromdhoni, banyak kabar yang menyebutkan bahwa sering kali bantuan disusupi kiriman persenjataan untuk kubu pemberontak. Truk bantuan IHH, mitra ACT di Turki, misalnya, pernah dilaporkan dipergoki aparat keamanan Turki penuh dengan senjata dan amunisi. Ankara pun sempat menggerebek sebuah kantor IHH di selatan Kilis, kota perbatasan Turki-Suriah meskipun IHH membantahnya dan menganggap ini cuma fitnah polisi.

Najih juga menyayangkan ACT yang tidak menggaungkan ‘Selamatkan Afrin’. Padahal, di kota Suriah dekat perbatasan Turki itu juga banyak jatuh korban jiwa dari warga sipil akibat bombardir militer Turki yang dibantu kelompok militan dukungan Ankara.

 

Lembaga kemanusiaan Medical Emergency Rescue Committee atau MER-C malah memilih tak mengirim relawan ke Suriah saat ini. MER-C yang berhasil mendirikan Rumah Sakit Indonesia di Jalur Gaza, Palestina, juga enggan terlibat dalam kampanye ‘Selamatkan Ghouta’.

“Kami tak mau terjebak dalam penggalangan dana yang partisan dan sepotong-potong, seolah-olah Ghouta dahsyat tapi yang lain tidak.”” kata Presidium MER-C Joserizal Jurnalis sebagaimana dikutip INDOPRESS.ID.

Menurut dokter lulusan Universitas Indonesia itu, persoalan Suriah harus dilihat secara luas, sehingga krisis kemanusiaan di sana tak dibeda-bedakan, mulai dari Aleppo, Palmyra, Afrin, hingga Ghouta. Satu bentuk ketidakadilan terjadi, dia bilang, ketika kelompok tertentu hanya mengampanyekan ‘Selamatkan Ghouta’ tapi tidak untuk Afrin. “Mengapa tidak ada ‘Selamatkan Afrin’, padahal warga Kurdi disikat oleh Turki?”

Joserizal mensinyalir, kemunculan kampanye ‘Selamatkan Ghouta’ dipicu terjepitnya kelompok militan tertentu di sana. Amerika Serikat juga, kata Joserizal, pernah berteriak ‘Save Aleppo’ karena kelompok militan yang dibekinginya terdesak oleh militer Suriah di Aleppo pada akhir 2016.