Dalam Surat al-Fatihah Disebut “Jalan yang Lurus”, Apa Maksudnya?

al-qur'an

Dalam Surat al-Fatihah Disebut “Jalan yang Lurus”, Apa Maksudnya?

Al-Fatihah merupakan surat yang turun setelah penggalan surat al-‘Alaq ayat 1-5, al-Qalam ayat 1-7, al-Muzammil ayat 1-10, al-Mudatsir ayat 1-7. Para ulama sepakat tentang jumlah ayat surat al-Fatihah sebanyak tujuh ayat dan termasuk dalam golongan surat Makkiyah. Dalam beberapa kitab tafsir tidak ditemukan sebab turunnya surat yang paling agung ini. Imam as-Suyuthi juga tidak menyinggung hal tersebut. Namun, yang penting diketahui bahwa surat al-Fatihah mengandung banyak kebaikan dan keutamaan. Karena dalam surat al-Fatihah mengandung pujian dan pengagungan kepada Allah SWT, pengakuan hamba Allah SWT yang berserah diri kepadaNya dan mengandung doa.

Pada ayat 1-4 mengandung pujian dan pengagungan kepada Allah SWT, kemudian pada ayat ke-5 berisikan pengakuan seorang hamba Allah SWT bahwa hanya kepadaNya tempat meminta dan berserah diri. Kemudian pada ayat ke-6 doa dipanjatkan. Hal ini sekaligus memuat ajaran tata cara berdoa atau akhlak dalam berdoa, yaitu dimulai dengan memuji dan mengagungkan Allah SWT, mengakui KebesaranNya, mengakui dosa lalu barulah meminta hajat.

اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ

Read More

“Tunjukkanlah kami ke jalan yang lurus”

Riwayat Ibnu Abbas, Abdullah bin Muhammad bin ‘Uqayl dan Maymun bin Mihran seluruhnya berpendapat bahwa makna jalan yang lurus dari ayat tersebut adalah “Agama Allah SWT yang tidak ada kekeliruan atau kebengkokan sama sekali, Islam. Kemudian dalam Tafsir Ibnu Katsir “Tafsir al-Qur’an al-‘Adzim, Imam Abu Ja’far bin Jarir mengatakan bahwa “menurutku maksud dari ayat ini adalah tunjukkanlah dan berikanlah kami jalan yang lurus, jalan yang lurus di sini artinya hidayah memeluk Islam, mengimani Rasulullah SAW, mengimani al-Qur’an, menjalankan segala yang diperintahkan Allah SWT, menjauhi segala larangan, mengikuti ajaran Rasulullah SAW, mengikuti ajaran empat khalifah setelah Rasulullah SAW dan ulama salihin, itulah yang disebut dengan jalan yang lurus”.

Ibnu ‘Asyur menambahkan bahwa hidayah ditandai dengan adanya “ketenangan” karena adanya “kebaikan” dan hakikat hidayah adalah “sampai kepada tujuan”. Artinya bahwa sampai kepada tujuan yaitu apa yang diridhai oleh Allah SWT. Adapun al-Baydawi mengatakan bahwa ayat keenam surat al-fatihah ini merupakan penjelasan tentang adanya pertolongan dari Allah SWT dari apa yang diminta oleh hamba-NYa. Al-Baydawi mengategorikan hidayah menjadi empat, yaitu hidayah berupa potensi, hidayat berupa kemampuan membedakan yang hak dan batil, hidayah diutusnya Rasul dan hidayah terbukanya rahasia hati baik melalui wahyu, ilham dan mimpi yang benar.

Beberapa ulama berkata “Allah SWT menjadikan keagungan doa dan hal-hal yang dapat menggabungkan semua permohonan terdapat dalam surat ini”. Dalam tafsir al-Qurthubi juga dijelaskan bahwa Allah SWT menjadikan doa dalam surat ini adalah sebaik-baiknya doa dari dari semua doa yang dipanjatkan oleh seorang hamba. Hidayah menuju jalan yang lurus adalah buah dari permohonan pertolongan yang tumbuh dari keyakinan yang baik bahwa Allah SWT satu-satunya pemberi pertolongan dan petunjuk kepada jalan yang lurus. Jika seseorang diberikan petunjuk menuju jalan ini maka ia akan sampai kepada pokok dari kebahagiaan yang sesungguhnya di dunia dan akhirat.

Oleh karena itu, perbanyaklah doa, terutama dengan lafazh doa dalam ayat keenam surat al-Fatihah. Semoga kita selalu diberikan taufik  dan hidayah. Karena hidayah adalah nikmat terbesar dari Allah SWT, kemenangan di dunia dan akhirat.  Aamiin.