Cak Nur dan Kisah Intoleransi

Cak Nur dan Kisah Intoleransi

Ketika mengkritik fenomena intoleransi yang terjadi pada masanya, alm. Cak Nur selalu mengedepankan sikap pribadinya sebagai seorang akademisi dan cendekiawan. Saya perhatikan jarang sekali Cak Nur memperlihatkan sikap sebagai seorang partisan dari kepentingan tertentu, yang berseberangan secara politik dengan kelompok intoleran tersebut.

Saya masih ingat pada akhir tahun 1992, setelah ceramahnya yang kontroversial di TIM Cikini, Cak Nur dihujat di sana sini oleh beberapa kelompok yang ditelah “diisusupi” intoleransi. Bahkan di jalan Kramat Raya ketika dibentangkan spanduk bertuliskan “Gantung Cak Nur, Perusak Islam” dan “Darah Cak Nur Halal”. Teror mental seperti itu, oleh beberapa orang diberitakan sempat membuat Ibu Omi Madjid khawatir atas keselamatan suaminya, Cak Nur.

Kekhawatiran seperti itu wajar jika melihat posisi Cak Nur. Ia hanyalah seorang akademisi yang setiap hari bergelut dengan diskusi dan literasi. Cak Nur bukanlah pemimpin ormas yang mempunyai massa fanatik yang siap membelanya apapun dan bagaimanapun alasannya.

Read More

Namun, di tengah kekhawatiran nan membara dari sang istri–dan juga anak-anaknya, nyali Cak Nur ternyata tidak gentar. Cak Nur malah membalas semua makian dan ancaman yang diarahkan kepada dirinya itu dengan senyuman. Kepada beberapa orang dekatnya, yang saya kenal, Cak Nur memaklumi kemunculan reaksi seperti itu. Menurutnya yang seperti itu muncul karena ketidaktahuan mereka terhadap esensi yang hendak beliau sampaikan.

Ucapan dan sikap Cak Nur itu menjadi kenyataan. 12 tahun setelah hujatan-hujatan itu berlalu, para aktivis tarbiyah yang dulu pernah menghakiminya di TIM, mengundang Cak Nur untuk menghadiri kampanye partai yang mereka dirikan. Bagai tidak pernah ada masalah, Cak Nur pun hadir memenuhi undangan para aktivis yang dulu pernah mencelanya.

Tidak ada yang berubah dari Cak Nur. Gestur bahasa dan elan pikiran yang disampaikannya tetap sama. Cak Nur tetap mengharapkan anak-anak muda yang dulu pernah menghujatnya, bisa keluar dari intoleransi. Cak Nur mengartikulasikan harapannya itu jauh dari bahasa nyinyir dan sarkastik, seperti yang kita lihat dari sebagian “pegiat” toleransi hari ini.

Bagi saya, Cak Nur adalah tipikal pahlawan toleransi yang ideal. Ia membela toleransi dengan menjauhi sikap intoleran. Beliau telah menyadarkan bangsa ini bahwa intoleransi hanya bisa dilawan dengan toleransi.

Melawan intoleransi dengan sikap intoleran, pada gilirannya hanya akan membuat intoleransi makin kuat.