Bom Bunuh Diri, Tragedi Kemanusiaan yang Masih Berulang

Ilustrasi

Bom Bunuh Diri, Tragedi Kemanusiaan yang Masih Berulang

Rasanya mendengar berita bom bunuh diri mulai melelahkan dan membuat frustasi, bagaimana tidak? Setiap tahun selalu ada kasus baru, targetnya mulai dari klub malam, hotel, tempat ibadah, hingga kantor dan pos polisi. Rasanya tidak habis fikir otak ini memikirkan bagaimana bisa ada seorang manusia yang meledakkan dirinya sendiri untuk mencelakai manusia lain, bagaimana seorang manusia bisa se-ekstrim itu kehilangan rasa kemanusiaannya?

Strategi bom bunuh diri bukan hal baru dan langka, sejak lama jaringan kelompok teroris di berbagai negara memakai strategi ini. Hasil studi yang mempelajari tentang mengapa seseorang melakukan bom bunuh diri juga berbeda-beda, dipengaruhi juga dengan ideologi kelompok dan keadadan diri, yang paling umum adalah motivasi iming-iming surga dan dijadikan martir oleh golongannya. Dalam kasus lain, diungkap juga permasalahannya bisa karena perekonomian dan pendidikan, dan masih banyak lagi teori-teori kenapa seseorang melakukan aksi bom bunuh diri.

Yang jelas, aksi tersebut pasti berbahan bakar benci dan amarah. Rasa tidak suka yang tumbuh menjadi benci dan terus dipupuk dan disemai hingga ingin menghilangkan nyawa kelompok lain. Sebagai muslim, kita tidak jarang diajari bahwa nasrani dan yahudi adalah musuh abadi bagi kita, dikutip dari Al-Qur’an (QS 2:120) sebegitu seringnya dan mengabaikan ayat-ayat yang mengedepankan perdamaian. Kita lupa bahwa meskipun Al-Qur’an adalah pedoman seumur hidup, Al-Qur’an turun secara kontekstual sesuai kebutuhan Nabi SAW dan umat pada saat itu. 

Read More

Pertanyaan besar lain muncul, apakah kita ikut berperan menyuburkan budaya membenci ini? Apa kita masih mengajari generasi selanjutnya, anak-anak kita, bahwa yang memeluk agama selain Islam harus dijauhi? Apakah kita sebagai guru, masih mengajari murid-murid kita untuk bersikap berbeda terhadap orang yang keyakinannya berbeda. Apa kita masih menyimpan perasaan bahwa kita superior dari mereka yang bukan muslim? Menganggap yang non-muslim adalah manusia kelas dua? Kita mungkin perlu instropeksi diri lebih jauh lagi, apakah kita sudah memanusiakan manusia? Manusia yang kesemuanya adalah ciptaan Yang Kuasa? Ataukah kita termasuk orang yang merasa berhak mengadili sebelum hari pengadilan Tuhan? Semoga kita tidak ikut menyuburkan mental-mental teroris, persekusi-persekusi itu termasuk mental teroris loh

Kita tidak bisa lagi menyangkal bahwa ada yang salah di cara kita berdakwah, materi yang menumbuhkan bibit kebencian sudah biasa disampaikan di pengajian-pengajian, entah kepada non-muslim, LGBTQ, syiah, atau yang berbau politik seperti partai tertentu. Ironis memang, agama rahmatan lil alamin (kasih sayang bagi seluruh alam) ini malah kita jadikan eksklusif di kalangan kita-kita saja, padahal nilai-nilai Islam seharusnya universal dan mengedepankan kemanusiaan.

Orang yang radikal tidak tiba-tiba jadi ekstrim, butuh bibit kebencian yang tumbuh menjadi intoleran, disertai ketidakpedulian dan kebodohan, terus disemai hingga subur. Kita juga tidak bisa lagi menyangkal bahwa teroris bukan muslim, karena mereka muslim dan melakukannnya karena motivasi agama, kita harus secara sadar memperbaiki cara kita berdakwah. Sentimen dan kebencian selain sudah tidak relevan, sudah terlalu berbahaya juga untuk dijadikan materi, harus berapa lagi korban yang jatuh? Bukankah lebih indah jika kita lebih mengusung nilai kesetaraan dan kemanusiaan dalam materi dakwah?

Islam itu sekarang adalah agama yang tumbuh terpesat di dunia, pemeluknya ada 2 milyar, iya sebanyak itu, seperempat penduduk bumi, sudah basi sekali kalau mau bangun narasi Islam eksklusif, Islam terasing dan diasingkan segala macam, Islam corak nusantara saja diributkan, padahal sekarang pasti islam sudah menyatu ke banyak corak budaya dan tempat lain. Tugas kita bukan menjaga kemurnian Islam secara leterlek, tetapi universalitas Islam. Menjaga keamanan dan perdamaian, membuang jauh narasi membenci adalah tugas kita saat ini sebagai muslim agen perdamaian.