Berjumpa dengan Siswa-siswi, Berbicara dan Mengajak Bermedia Sosial dengan Bijak

Siswa-siswi MAN Boyolali belajar untuk bermedia sosial

Berjumpa dengan Siswa-siswi, Berbicara dan Mengajak Bermedia Sosial dengan Bijak

Bagaimana mengajarkan toleransi kepada siswa-siswi?

Bagaimana mengajak siswa untuk tetap kreatif dan turut serta dalam gerakan menolak kebencian dan intoleransi? Barangkali, cara ini perlu ditiru. Beberapa hari lalu, Pusat Kajian dan Pengembangan Pesantren Nusantara (PKPPN) berjumpa dengan adik-adik siswa-siswi MAN 2 Boyolali. Pelatihan ini merupakan bagian dari program Literasi Islam Santun dan Toleran (LISAN) Santri Camp beberapa bulan lalu yang bertempat di Pesantren Al-Muttaqien Pancasila Sakti, Klaten.

Dalam acara ini, salah seorang peserta Lisan Santri Camp yang merupakan siswa dari MAN 2 Boyolali berbagi pengalaman tentang apa yang mereka peroleh dari kegiatan LISAN, yakni tentang proses kreatif dalam menyeleksi, memfilter dan memproduksi konten-konten positif di media sosial. Duta LISAN ini didampingi oleh tim ahli dari PKPPN.

“Sudah seharusnya pesan-pesan Islam yang wasathiyyah (moderat) itu disebarkan di masyarakat awam yang kadang-kadang dimasuki oleh kelompok aliran Islam radikal yang tidak ramah terhadap perbedaan,” tutut KH Fuad, kepala sekolah MAN 2.

Read More

Pelatihan ini berlangsung dari jam 08.30-12.00 dengan pemateri dari Duta LISAN dan didampingi oleh Tim PKPPN IAIN Surakarta. Nurma dan Wahyu, yang merupakan Duta LISAN sekaligus siswa MAN 2 Boyolali banyak bercerita tentang proses kreatif bagaimana membuat konten positif di media sosial serta pengalaman mereka selama mengikuti pelatihan di LISAN Santri Camp.

Di akhir acara, Arina Rohmatika, M. Pd.—selaku pendamping Duta LISAN—memberikan rambu-rambu dasar dalam bermedsos dengan bijak.

Menurutnya, ada lima hal yang harus dimiliki oleh semua orang yang ingin aktif di media sosial. Di antaranya adalah: 1) think before typing (pikirkan baik-baik sebelum mengetik), 2) Cek ulang informasi sebelum share, 3) hindari konten SARA, 4) menahan diri (tidak mudah terprovokasi), 5) tebarkan ucapan dan sharing kebaikan nan santun.

Acara ini diakhiri dengan testimoni dari siswa MAN 2 Boyolali. Nurma Avitasari salah seorang peserta workshop ini menyatakan bahwa acara ini sangat bermanfaat dan menambah wawasan sebagai bekal bagi siswa dalam bermedsos dengan baik dan bijak. Program-program LISAN yang juga didukung oleh Wahid Foundation ini salah satu fokusnya adalah mengadakan pelatihan-pelatihan dan diseminasi pesan-pesan Islam yang ramah dan santun yang menyasar siswa-siswi Madrasah di wilayah Solo Raya. (Abd Halim)