Berita Politisi India Hina Nabi Muhammad Jangan Dijadikan Alasan Mendiskriminasi Minoritas

Berita Politisi India Hina Nabi Muhammad Jangan Dijadikan Alasan Mendiskriminasi Minoritas

Beberapa hari lalu, tagar #BoikotIndia sempat menjadi trending di media sosial Twitter. Tagar itu menjadi viral setelah muncul pernyataan yang dilontarkan oleh seorang politisi India yang dianggap sebagai sebuah penghinaan kepada Nabi Muhammad SAW. Diketahui politisi tersebut bernama Nupur Sharma, juru bicara partai BJP (Bharatya Janata Party).

Berita Politisi India Hina Nabi Muhammad Jangan Dijadikan Alasan Mendiskriminasi Minoritas

Beberapa hari lalu, tagar #BoikotIndia sempat menjadi trending di media sosial Twitter. Tagar itu menjadi viral setelah muncul pernyataan yang dilontarkan oleh seorang politisi India yang dianggap sebagai sebuah penghinaan kepada Nabi Muhammad SAW. Diketahui politisi tersebut bernama Nupur Sharma, juru bicara partai BJP (Bharatya Janata Party).

Sharma melontarkan pernyataan kontroversial tersebut pada sebuah acara debat yang ditayangkan oleh stasiun TV di India, dan itu terjadi jauh sebelum tagar #BoikotIndia viral di Indonesia, yakni pada sekitar akhir Mei. Awalnya kecaman tersebut berasal dari umat Islam di India, lalu disusul beberapa negara di Timur Tengah, sebelum akhirnya diikuti sebagian umat Islam di Indonesia.

Nupur Sharma sendiri telah menerima sanksi dari partai BJP berupa skors dari keanggotaan utama partai. Namun, nampaknya sanksi tersebut tidak cukup memuaskan sebagian umat Islam yang emosi. Bahkan, Sharma mengaku sedang menghadapi berbagai ancaman, tidak hanya ditujukan pada dirinya melainkan juga keluarganya.

Stasiun TV yang menayangkan debat tersebut telah menghapus video penuhnya, hanya potongan video singkat yang tersebar di media sosial. Dalam video tersebut, politisi India tersebut mengatakan:

“Kuda terbangmu (merujuk ke  peristiwa Isra Mi’raj), dan bumi itu datar sebagaimana dikatakan dalam Al-Qur`an-mu. Haruskah aku membuat guyonan tentang hal itu? Kamu menikahi gadis 6 tahun dan berhubungan dengannya saat ia berusia 9 tahun. Tahukah anda siapa yang melakukannya? Ya, Nabi Muhammad.” Pernyataan itu ia lontarkan kepada lawan debatnya.

Melalui akun Twitternya, @NupurSharmaBJP, Sharma juga telah melayangkan permintaan maaf secara terbuka. Dalam permintaan maaf tersebut, ia juga menjelaskan alasan yang membuatnya melontarkan pernyataan tersebut.

“Saya menghadiri debat (di stasiun) TV dalam beberapa hari lalu yang mana Mahadev (dewa tertinggi) kami diserang dan direndahkan secara terus-menerus. Simbol Siwa (Shivling) diejek dengan mengatakan bahwa itu bukan Shivling, tetapi air mancur. Shivling itu juga dihina yaitu disamakan dengan rambu di pinggir jalan dan tiang di Delhi.” Tulisnya.

Terlepas dari benar atau tidaknya alasan yang diutarakan oleh Sharma, tindakannya yang menyebabkan munculnya berbagai reaksi negatif tidak bisa dibenarkan. Apalagi, ia berbicara di depan umum, yang mana seharusnya mempertimbangkan setiap ucapannya, hal-hal sensitif yang berpotensi memicu respon negatif dari kelompok tertentu harus dihindari.

Di sisi lain, amarah sebagian umat Islam yang menganggap pernyataan Sharma menghina Nabi adalah hal yang manusiawi. Hanya saja, reaksi yang diekspresikan tidak perlu berlebihan, mengingat video yang tersebar juga hanya berupa cuplikan singkat. Apalagi sampai melayangkan ancaman pembunuhan kepada Sharma.

Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) sendiri telah memanggil duta besar India untuk menanyakan hal tersebut. Sebelumnya, beberapa negara Timur Tengah seperti Qatar dan Kuwait juga mengambil langkah yang sama. Langkah ini dianggap cukup tepat mengingat India memang dianggap belum mampu mengatasi konflik beragama yang melibatkan kelompok mayoritas (Hindu) dan minoritas (muslim). Hal itu juga akan merugikan mereka sendiri. Dari tagar #BoikotIndia pun mereka berpotensi mengalami kerugian, khususnya dari segi ekonomi.

Sebagai muslim, tentu kita memiliki rasa cinta kepada Nabi Muhammad. Namun, mengekspresikan kecintaan dengan berlebihan tentu tidak baik. Dalam konteks penghinaan terhadap Nabi, boleh saja kita marah, tetapi jangan sampai perasaan marah tersebut membuat kita melakukan hal yang tidak patut, seperti menghina balik mereka atau bahkan mengancam keselamatan mereka. Apakah Nabi mencontohkan hal itu? Tentu tidak.

Dalam sejarah tercatat bahwa Nabi pernah mengalami penghinaan dan kekerasan dari penduduk Thaif. Saat itu, bukan lagi manusia, bahkan malaikat pun emosi melihat perlakuan mereka. Namun, Nabi justru memaafkan mereka dan mendoakannya. Habib Ali Al-Jufri pernah mengatakan:

“Tahukah anda prediksi saya jika penghinaan ini sampai kepada Nabi? (Saya memprediksi) Beliau akan menengadahkan tangan dan berdoa,’Ya Allah, berilah mereka petunjuk, karena mereka tidak tahu.’ Ini mungkin yang pertama beliau lakukan.” Jelas beliau.

Terkait dengan perlakuan mayoritas di India yang seringkali mendiskriminasi minoritas, jangan sampai hal itu terjadi di Indonesia. Jangan sampai dengan beralasan umat Islam selaku minoritas di sana mendapat perlakuan diskriminasi, lalu menjadikan fakta tersebut sebagai pembenaran untuk melakukan tindakan yang sama kepada minoritas di Indonesia.