Bencana Alam dan Dosa Manusia: Tafsir Q.S. al-Isra ayat 59 dan  Q.S. Fushshilat ayat 5

Seorang nenak sedang melintas di reruntuhan gempa Lombok kemarin. Pict by Antarafoto/Ahmad Subaidi

Bencana Alam dan Dosa Manusia: Tafsir Q.S. al-Isra ayat 59 dan Q.S. Fushshilat ayat 5

Bencana alam seringkali dihubungkan dengan dosa manusia. Apakah benar demikian? Demikian ini komentar al-qur’an.

Fenomena bencana alam seperti gempa bumi, gunung meletus dan Tsunami tak jarang dikait-kaitkan sebagai balasan atas dosa penduduk yang tertimpa musibah bencana tersebut. Bahkan, akhir-akhir ini muncul sebagian pihak yang menghubungkan bencana gempa di Lombok- Nusa Tenggara Barat, dengan sikap politik tokoh tertentu. Muncul sebuah klaim bahwa gempa diakibatkan oleh sikap atau dukungan salah seorang tokoh tertentu terhadap salah satu bakal calon presiden Republik Indonesia.

Merujuk kepada ayat-ayat Al-Quran, ternyata sebuah bencana dapat dipahami dengan pemaknaan lain, tidak hanya sebagai sebuah azab atau sebagai balasan atas dosa atau kesalahan suatu kaum/ bangsa/ personal.

Sebuah bencana dapat dipahami sebagai sebagai tanda-tanda kebesaran Allah swt, sesuatu yang menunjukan kuasa dan keagungan Ilahi. Bisa dikatakan, ayat-ayat Al-Quran yang menarasikan tentang fenomena alam dapat membawa pesan semacam itu. Pesan seperti ini dapat kita temukan dalam Q.S. al-Isrā/ 17: 59 maupun Q.S. Fushshilat/ 41: 53.

Read More

وَ ما مَنَعَنا أَنْ نُرْسِلَ بِالْآياتِ إِلاَّ أَنْ كَذَّبَ بِهَا الْأَوَّلُونَ وَ آتَيْنا ثَمُودَ النَّاقَةَ مُبْصِرَةً فَظَلَمُوا بِها وَ ما نُرْسِلُ بِالْآياتِ إِلاَّ تَخْويفاً (59)

“Dan sekali-kali tidak ada yang menghalangi Kami untuk mengirimkan (kepadamu) tanda-tanda (kekuasaan Kami), melainkan karena tanda-tanda itu telah didustakan oleh orang-orang dahulu. Dan telah kami berikan kepada Tsamud unta betina itu (sebagai mukjizat) yang dapat dilihat, tetapi mereka menganiaya unta betina itu. Dan Kami tidak memberi tanda-tanda itu melainkan untuk menakuti”. (Q.S. al-Isrā/ 17: 59).

سَنُريهِمْ آياتِنا فِي الْآفاقِ وَ في‏ أَنْفُسِهِمْ حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُ الْحَقُّ أَ وَ لَمْ يَكْفِ بِرَبِّكَ أَنَّهُ عَلى‏ كُلِّ شَيْ‏ءٍ شَهيدٌ (53)

“Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al Qur’an itu adalah benar. Dan apakah Tuhanmu tidak cukup (bagi kamu) bahwa sesungguhnya Dia menyaksikan segala sesuatu ?” (Q.S. Fushshilat/ 41: 53).

Q.S. al-Isrā/ 17: 59 menjelaskan bahwa begitu banyak manusia yang telah mendustai tanda-tanda Allah swt, termasuk di dalamnya adalah mukjizat dan ajaran-ajaran para nabi as. Allah swt telah menjelaskan keberadaan dan eksistensi-Nya melalui beragam cara, dari yang maknawi hingga pada cara-cara yang bersifat material.

Al-Quran merupakan mukjizat Nabi Muhammad saw yang terhitung agak berbeda dengan beberapa mukjizat para nabi sebelumnya yang bersifat temporal, yang hanya bisa disaksikan oleh orang di jamannya seperti keluarnya seekor unta betina dari sebongkah batu gunung (pada masa nabi Sholih as). Jadi, berbeda dengan mukjizat para nabi sebelumnya, Al-Quran selalu sinergis secara sempurna bagi kehidupan setiap manusia. Ia selalu mengajak berdialog akal dan hati manusia pada tiap generasinya.

Kemudian, ayat ini menjelaskan bahwa Allah swt juga menunjukan tanda-tanda kebesaran Allah swt melalui beragam bencana yang menimpa umat terdahulu seperti kaum Tsamud (umat Nabi Sholih as) yang ditimpa gempa dahsyat. Beberapa umat lainnya yang senasib dengan umat Tsamud- yang disebutkan oleh beberapa ayat di tempat lainnya- adalah kaum Syu’aib dan ‘Ād. Karun yang ditelan bumi. Demikian juga Fir’aun, Haman dan kaumnya yang ditenggelamkan dalam laut Merah. Beragam bencana tersebut sebagai tanda-tanda keberadaan dan kekuasaan Allah swt, yang menjadi peringatan manusia setelahnya agar takut dan ingat akan azab ilahi, baik di dunia maupun akhirat.

Sedangkan Q.S. Fushshilat/ 41: 53 menjelaskan bahwa Allah swt selalu dan tiada henti nenampakan ayat-ayat dan kuasa Ilahi-Nya dalam seluruh ufuk alam semesta. Tercakup di dalamnya, Ia telah menciptakan langit, bumi dan segala isinya. Demikian juga, Allah swt telah mengaturnya dengan hukum-hukum dan sunnah Ilahi tertentu sesuai dengan kadarnya. Misalnya, Matahari, Bulan dan bintang-bintang beredar pada porosnya. Gunung dan lempeng-lempeng bumi selalu bergerak pada tempatnya. Melalui pemahaman terhadap kandungan Q.S. Fushshilat/ 41: 53 maka gempa bumi dapat dipahami sebagai sebuah sebuah fenomena alam karena terjadinya pergeseran lempeng plat tektonik. Fenomena-fenomena tersebut merupakan tanda-tanda/ ayat-ayat Allah swt.

Jadi, melalui tadabbur beberapa ayat Al-Quran di atas, ternyata bencana dan fenomena alam dapat dipahami dalam beragam sudut pandang dan perspektif. Bencana tidak selalu hanya dikaitkan hanya sebagai balasan terhadap sebuah dosa atau kesalahan suatu kaum/ bangsa/ personal.  Akan tetapi, bisa dipahami dalam sudut pandang lainnya, yakni sebagai sebagai tanda-tanda kuasa dan keagungan Allah swt.

Kerwanto, Penikmat Kajian Tafsir.