Benarkah Agama Musuh Pancasila?

Benarkah Agama Musuh Pancasila?

Benarkah Agama Musuh Pancasila?
SARA bisa menghancurkan pancasila kita. Apalagi, melupakan kaum mustadh’afin

Pernyataan Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Prof Yudian Wahyudi yang menyatakan bahwa “Agama” adalah musuh terbesar Pancasila, bukan kesukuan viral dan mendapatkan banyak tanggapan. Sengaja saya memberi tanda petik pada kata Agama, karena memang saya melihat apa yang disampaikan Prof Yudian tidak tersurat sebagai agama, namun kelompok-kelompok kecil yang sering mengatasnamakan agama sebagai senjata politiknya.

Kita harus berani jujur dalam melihat fenomena politik di Indonesia. Jujur mengakui bahwa memang ada politisasi agama yang dimainkan kelompok-kelompok tertentu. Buktinya sudah sangat jelas, bagaimana jenazah seorang nenek tak dishalati gara-gara dianggap memilih pemimpin kafir. Kita harus berani jujur bahwa ada kelompok-kelompok kecil yang mereduksi agama sesuai dengan keinginan mereka sendiri, membajak agama, memonopoli agama untuk tujuan-tujuan kelompoknya.

Kenapa mereka yang membajak agama berbahaya bagi Pancasila? Sebenarnya bukan hanya berbahaya bagi Pancasila, namun berbahaya bagi Indonesia. Ketika agama dijadikan sebagai senjata untuk kepentingannya, maka siapa yang tak sama akan dianggap melawan tuhan, semua yang disuarakannya dianggap sebagai suara tuhan. Di tengah pluralitas yang ada, yang demikian tersebut adalah sangat berbahaya, sentimen-sentimen agama akan sangat gampang untuk dimainkan, konflik akan sangat mudah untuk terjadi.

Kita harus jujur mengakui bahwa ada kelompok-kelompok Islam yang menginginkan sistem lain untuk negara kita tercinta ini, ingat Hizbut Tahrir Indonesia? Walaupun status badan hukumnya dicabut, namun mereka masih intens untuk menyuarakan sistem lain, yakni Khilafah Islamiyah, belum lagi ada FPI yang menyuarakan NKRI Bersyariah bukan? Apakah mereka tak dianggap merongrong Pancasila? Apakah mereka dianggap tak membahayakan Indonesia?

Pancasila adalah konsensus bersama yang sudah final, dirumuskan bahkan ada ulama-ulama yang ikut di dalamnya. K.H Wahid Hasyim, K.H Masykur dan beberapa ulama lain adalah anggota BPUPKI yang bertugas merumuskan dasar negara dan undang-undang dasar. Apakah mereka kurang alim? Kurang dalam wawasan keagamaannya hingga dengan segala keluasan hati dan kebijaksanaannya menyepakati Pancasila untuk menjadi payung teduh bagi keberagaman yang ada di Indonesia?

NU bahkan sebagai Ormas terbesar di Indonesia, untuk soal penerimaan pada pancasila sudah selesai pada Muktamar NU ke-27 tahun 1984 di Situbondo, dalam Muktamar tersebut lahir satu piagam deklarasi tentang hubungan Pancasila dengan Islam. Berikut isi piagam tersebut:

Bismillahirrahmanirrahim

  1. Pancasila sebagai dasar dan falsafah Negara Republik Indonesia bukanlah agama, tidak dapat menggantikan agama dan tidak dapat dipergunakan untuk menggantikan kedudukan agama.
  2. Sila “Ketuhanan Yang Maha Esa” sebagai dasar Negara Republik Indonesia menurut pasal 29 ayat 1 Undang Undang Dasar (UUD) 1945, yang menjiwai sila yang lain, mencerminkan tauhid menurut pengertian keimanan dalam Islam.
  3. Bagi Nahdlatul Ulama (NU) Islam adalah akidah dan syariah, meliputi aspek hubungan manusia dengan Allah dan hubungan antara manusia.
  4. Penerimaan dan pengamalan Pancasila merupakan perwujudan dari upaya umat Islam Indonesia untuk menjalankan syariat agamanya.
  5. Sebagai kondisi dari sikap di atas, NU berkewajiban mengamankan pengertian yang benar tentang Pancasila dan pengamalannya yang murni dan konsekuen oleh semua pihak.

Rais Aam NU pada waktu itu, K.H Ahmad Shiddiq dalam pidatonya menjelaskan “Dengan demikian, Republik Indonesia adalah bentuk upaya final seluruh nation (bangsa), teristimewa kaum muslimin, untuk mendirikan negara (kesatuan) di wilayah Nusantara. Para Ulama dalam NU meyakini bahwa penerimaan Pancasila ini dimaksudkan sebagai perjuangan bangsa untuk mencapai kemakmuran dan keadilan sosial.”

Sampai saat ini, sebenarnya sudah selesai pembahasan Pancasila. Jika masih ada yang mengutak-atiknya kembali, harus kita lawan bersama demi menjaga konsensus para pendiri bangsa. Semangat-semangat untuk terus membawa agama sebagai identitas politik seperti yang mereka lakukan saat ini adalah sebenarnya yang menjadi musuh Pancasila, musuh Indonesia dan musuh kita bersama.

Arab Spring mengajarkan kita bahwa semua hal yang mengatasnamakan agama dan janji-janji surgawi, jika mengikutinya akan berakhir dengan perang dan kehancuran yang tak berkesudahan. (Baca tulisan saya tentang mewaspadai Arab Spring terjadi di Indonesia). (AN)

Wallahu a’lam.