Belajar Toleransi dari Imam Abu Hanifah

https://id.wikipedia.org/wiki/Abu_Hanifah

Belajar Toleransi dari Imam Abu Hanifah

Abu Hanifah tidak pernah mengklaim pendapat dirinya yang paling benar, dan pendapat yang lain salah.

Era media digital yang kita lalui saat ini ibarat menggenggam sebilah pisau: di satu sisi ia bisa sebagai alat dakwah dan menebar kemanfaatan, sedangkan di sisi lain dapat memecahbelah persatuan dan menimbulkan kemafsadatan, salah satunya ialah gejala intoleransi. Kehadiran media sosial yang begitu marak tak lepas dari gejala menguatnya intoleransi itu, dengan adanya pemaksaan pendapat: merasa dirinya paling benar dan menyalahkan yang lain.

Imam Abu Hanifah, seorang pendiri aliran fikih Rasional (Imam ahlur ra’yi) adalah seorang yang jujur, tulus dan memiliki toleransi yang tinggi dalam menyampaikan pandangan dan pendapatnya. Beliau tidak pernah mengklaim pendapat dirinya yang paling benar, dan pendapat yang lain salah. Beliau selalu mengatakan:

قولنا هذا رأي، وهو أحسن ما قدرنا عليه، فمن جاءنا بأحسن من قولنا فهو أولى بالصواب منا

Read More

 “Apa yang aku sampaikan ini adalah sekedar pendapat. Ini yang dapat aku usahakan semampuku. Jika ada pendapat yang lebih baik dari ini, ia lebih patut diambil.”

Sungguh, suatu kerendahhatian tingkat tinggi yang hari ini mulai langka. Di mana, satu kelompok dengan kelompok lainnya saling serang, hujat, hasut dan memaksakan kebenaran. Dengan pernyataan tersebut, kita dapat belajar toleransi serta membuka ruang dialog dan belajar dari pendapat lain.

Salah seorang sahabat beliau, bahkan pernah bertanya: “Tuan Abu Hanifah, apakah fatwa yang anda sampaikan telah sungguh-sungguh benar, tak ada keraguan lagi?”. Beliau pun menjawab:

والله لا أدري لعله الباطل الذي لا شك فيه

“Demi Allah, aku tidak tahu, barangkali keliru sama sekali”

Imam Abu Hanifah bersedia mencabut atau meralat pendapatnya jika kemudian diketahuinya keliru dan ia menyampaikan terima kasih kepada yang mengkoreksinya. Ia tak merasa harga dirinya jatuh karena mengakui hal itu. Inilah keluhuran akhlak yang seyogyanya ditiru oleh umat Islam khususnya saat ini, dan masyarakat secara luas.

Jika sang pendiri Madzhab Hanafi yang dikenal luas begitu alim dan allamah saja toleransinya begitu tinggi, tak memaksakan pendapatnya kepada orang lain, layakkah kita yang ilmunya tidak ada apa-apanya dengan beliau memaksakan pendapat dan kehendak kita sendiri? Inilah, hal yang perlu kita renungkan bersama, di tengah banjir informasi dan berita, yang saling serang, hujat dan memaksakan kebenaran.

Wallahu A’lam