Bagaimana Kehidupan Manusia di Akhirat Kelak? Ini Tujuh Kenikmatannya

ilustrasi akhir dari dunia

Bagaimana Kehidupan Manusia di Akhirat Kelak? Ini Tujuh Kenikmatannya

Kenikmatan dunia ada batasnya, baik berkaitan materi, waktu, tempat dan lainnya. Berbeda dengan kehidupan akhirat yang kekal nan abadi. Beruntung orang yang mampu memenejemen segala urusan dunianya sebagai sarana mendapatkan keuntungan diakhirat. Sebaliknya, celaka orang yang menggunakan urusan akhirat ditujukan untuk mengejar kepentingan sesaat baik berupa pangkat jabatan yang seringkali menjadi rebutan, maupun kekayaan yang tak akan dibawa sampai kuburan.

Dari sini kiranya ayat di bawah ini sebagai bahan renungan agar hidupnya semakin ringan, tak cepat uring-uringan.

مَن كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الْآخِرَةِ نَزِدْ لَهُ فِي حَرْثِهِ ۖ وَمَن كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الدُّنْيَا نُؤْتِهِ مِنْهَا وَمَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ مِن نَّصِيبٍ

Read More

Artinya:

”Barang siapa yang menghendaki keuntungan di akhirat akan Kami tambah keuntungan itu baginya dan barang siapa yang menghendaki keuntungan di dunia Kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu bahagianpun di akhirat.” (QS. As-Syura: 20)

Menurut Imam Al-Baidhawi dalam kitab tafsirnya yang berjudul Anwar at-Tanzil Wa Asrar At-Ta’wil menjelaskan bahwa orang yang ingin mendapatkan pahala akhirat diumpamakan seperti orang yang menanam kebaikan yang bermanfaat walau dengan urusan duniawi, begitu juga amalan akhirat akan menjadi amalan dunia karena niatnya yang kurang tepat.

Menurut Abu Al-Lais as-Samarkandi dalam Tanbih al-Ghafilin  kenikmatan akhirat terbagi menjadi tujuh bagian, penjelasannya sebagai berikut:

Pertama, kenikmatan akhirat  abadi tak akan ada kehancuran (فناء).

Kedua, memiliki kemampuan (قدرة) serta dijauhkan dari ketidakberdayaan (عجز).

Ketiga, memiliki pengetahuan (علم) serta dijauhkan dari kebodohan (الجهل).

Keempat, bergelimang  kekayaan yang melimpah (غني) dan tak akan fakir.

Kelima, diberi keamanan, kesentosaan serta dijauhkan dari segala ketakutan.

Keenam, menikmati  peristirahatan yang nyaman tanpa ada kesusahan.

Ketujuh, memiliki kedudukan mulia (عز) dan dijauhkan dari segala kehinaan (ذل).

Dari sini dapat diambil kesimpulan bahwa orang yang ingin mendapatkan pahala yang banyak harus cerdas dalam berniat sehingga akan merasakan kenikmatan yang abadi.