Bagaimana Islam Menilai Sikap Ananda Sukarlan dan Anies Baswedan?

Belum lama dilantik, Anes Baswedan mendapat banyak penolakan. Salah satunya dari Pianis Ananda Sukarlan dan beberapa alumni Kanisius Jakarta ANTARA FOTO/M Agung Rajasa/ama/17

Bagaimana Islam Menilai Sikap Ananda Sukarlan dan Anies Baswedan?

Bagaimana islam melihat sengkarut Ananda Sukarlan dan Anies Baswedan? Dalam islam, ada istilah konsep tamu. Tapi, Anies juga tidak boleh jumawa.

Islam tentu saja tidak membenarkan sikap Ananda Sukarlan yang keluar saat Gubernur Anies Baswedan bicara. Islam punya norma yang meminta pemeluknya menghormati tamu.

“Barang siapa beriman, maka hendaklah memuliakan tamunya,” begitu potongan sebuah hadis Nabi. Lebih-lebih Ananda Sukarlan di acara 90 tahun Kanisius juga tamu, sama dengan Gubernur Anies. Dalam hal ini, Ananda juga bisa dinilai tidak saja menghargai tamu lainnya, tapi juga tuan rumah, yang bertanggung jawab atas semua kejadian di rumahnya, di hajatannya.

Ada satu hadis Nabi yang bicara etika bertamu, “Tamu seperti jenazah.” Ini keras sekali. Tamu (harus) seperti orang mati. Artinya, diminta duduk, ya duduk, diminta bicara, ya bicara, diminta mendengarkan, ya mendengarkan, disajikan kopi ya jangan minta jus kedongdong.

Read More

Semua komunitas, komunitas agama hingga adat, protokoler negara hingga ruang-ruang atau acara-acara kesenian, punya etika dasar, yang harus dijunjung. Bahkan, supir metromini saja mematikan musik di kendaraanya saat pengamen hendak bernyanyi di area “kekuasaan” si supir, padahal pengamen tidak diundang juga.

Bukan hanya itu, Ananda Sukarlan bisa dikenakan “pasal” dalam etika Islam yang berisi tidak boleh mempermalukan pemimpin di muka umum. Jika ingin mengkritik, etika Islam punya “prosedur” (tentu saja prosedurnya bisa berubah, apalagi zaman Demokrasi dan “zaman begini ini”).

Namun, kita juga tidak boleh memojokkan Ananda Sukarlan hingga di tempat yang paling pojok. Orang pesantren bilang,”Kita tidak boleh memojokkan orang sepojok-pojoknya.”

Boleh saja kita menilai musisi kita ini tidak punya konteks untuk bersikap seperti itu. Tapi kita juga harus melihat bahwa dia adalah orang, di antara sekian banyak orang Jakarta, yang kecewa punya pemimpin yang bicaranya, soal pribumi bermakna rasis, misalnya. Kekecewaan yang membuat orang bersikap tidak etis, tidak relevan, seperti sikap Ananda kemarin itu, biasa terjadi, wajar. Lebih-lebih sikap Ananda tidak ada apa-apanya dibandingkan statemen Anies. Sikap Ananda Sukarlan tidak akan berdampak buruk bagi wacana dan dan kehidupan berbangsa. Berbeda dengan stetemen pribumi Anies Baswedan yang seorang gubenur dengan wilayah ibu kota negara.

Kita semua, harus mengambil hikmah dan pelajaran atas kejadian di atas, tak terkecuali Gubernur Anies Baswedan.

*Selengkapnnya tentang artikel ini, sila klik tautan di media sindikasi Alif.id