Asal-usul Kata ‘Bela Islam’ yang Ternyata Salah Kaprah

Asal-usul Kata ‘Bela Islam’ yang Ternyata Salah Kaprah

Ini kisah di balik kata ‘bela’ yang justru salah kaprah itu

Asal-usul Kata ‘Bela Islam’ yang Ternyata Salah Kaprah

Sudah cukup lama lembaga itu bergerak, tapi tak banyak orang menyadari ada hal yang sedikit aneh. Bukan soal kelakuannya yang memang kerap bikin teriak, suka gertak. Bukan ihwal reaksinya yang kerap ringan tangan, main gebuk, gampang hajar. Juga bukan sikap mentang-mentangnya yang suka main usir, main tutup, dengan ancaman remuk jika ditentang. Bukan, bukan itu, ini soal kecil saja: nama.

Lembaga itu menyandang nama dengan embel-embel “pembela Islam”. Memang bagus-bagus saja, ada tersirat niat luhur melakukan sebuah upaya “membela”. Ada perjuangan. Ada kerelaan berkorban. Tentu ada empati pula, rasa turut menderita atas kesengsaraan yang dialami korban. Juga rasa kasihan, karena korban tak cukup punya daya, lemah, tak mampu berbuat banyak demi membela diri, dus butuh pembela di luar dirinya.

Tapi, siapa yang tak berdaya itu? Di sini sedikit ganjil, yang lemah itu bukan si miskin, bukan si yatim, bukan si tergusur, tapi… Islam. Kata “membela Islam” macam menyiratkan adanya posisi Islam sebagai “yang lemah”, yang kemudian memerlukan uluran tangan-tangan kekar yang punya kekuatan lebih sebagai “pembela”. Arogansi? Hmm, kata ini tak terlalu tepat, barangkali. Rasa percaya diri berlebihan—frasa ini mungkin lebih pas, meski sedikit boros.

Ini bukan sekadar main-main kata, tapi soal pikiran yang berdiam di balik kata. Kata “membela Islam” dengan siratan makna macam klaim lembaga itu, bukan main sulitnya ditemukan dalam al-Quran. Al-Quran dikenal sebagai kitab yang kerap memotret peristiwa politik ataupun situasi sosial tertentu dengan kata-kata yang, sebut saja, in-depth, mendalam. Tapi ketika mencari kata untuk gambaran peristiwa yang disebut “membela”, mungkin yang kita temukan adalah “Allah membela…”, yang tentu sama sekali tak aneh sebab Allah memang Al-Qawiy, Yang Mahakuat.

Baik, katakanlah istilah “membela” itu diwakili kata dâ-fa-’a, yu-dâ-fi-’u, di-fâ-’an, maka yang kita dapati adalah Surat al-Hajj (22) ayat 38. “Innallâha yudâfi’u ‘anil-ladzîna âmanû,” bunyi ayat itu, “Sesungguhnya Allah membela orang yang beriman.” Ayat ini bicara soal orang mukmin yang terusir. Kala itu, umat Muhammad di Makkah tengah dizalimi kaum Musyrikin. Mereka terus-menerus mengalami penganiayaan, hingga akhirnya Nabi pun harus keluar dari Makkah.

Wajarlah jika di ayat berikutnya disebutkan bahwa dizinkan bagi orang mukmin berperang, karena mereka telah dianiaya. Mereka dalam posisi lemah. Jumlah belum banyak, jabatan politik belum kuat. Sedangkan mereka harus menghadapi raksasa-raksasa Quraisy Makkah yang menguasai kekuasaan politik maupun modal ekonomi. Tapi Allah segera memberikan keyakinan, “Allah membela orang-orang yang telah beriman.”

Ya, yang tampak dalam ayat ini adalah gambaran kaum mukmin yang lemah berbanding dengan kaum Quraisy yang serbakuat. Allahlah yang kemudian membela kaum mukmin itu. “Sungguh Allah Mahakuasa menolong mereka,” begini disebut di ayat selanjutnya. Dan, hmmm, ini bukan tentang gambaran Islam yang lemah dan kemudian ada sosok-sosok perkasa yang tampil membelanya. Dan kita tahu mengapa demikian: Islam hadir memang bukan untuk dibela tapi untuk membela manusia dari kekejaman dan kesewenangan manusia lain.

Di bagian lain al-Quran, kita bisa lihat gambaran peristiwa berbeda yang muncul dari ayat yang memakai kata da-fa-’a—ini jika kita hendak cari kata seakar dengan dâ-fa-’a. Kata ini menyimpan makna menahan, mencegah, menolak, mendorong. “Idfa’ bil-latî hiya ahsanus-sayyi’ata,” begitu ayat 96 Surat al-Mukminum (23), “Tolaklah perbuatan buruk mereka dengan yang lebih baik.”

Ayat ini merupakan titah Allah kepada Nabi ketika menghadapi begitu menderunya kalimat dan perilaku menyakitkan dari kaum Musyrik. Nabi diperintahkan agar membalas justru dengan perbuatan baik, bahkan dengan memberi maaf. Dan kita tahu, Nabi kerap tak segan mengampuni tindakan-tindakan jahat kaum Musyrik.

Di Surat Fushshilat (41) ayat 34, kalimat dengan nada semacam kembali disebut. “Idfa’ bil-latî hiya ahsan, tolaklah [kejahatan] itu dengan perbuatan yang lebih baik.” Ada tambahan kata-kata yang mengagumkan di ayat ini: “…hingga yang antara kau dan dia ada permusuhan menjadi seolah-olah teman karib yang sangat setia, waliyyun hamîm.” Sebuah titah yang tak hanya menginstruksikan untuk membalas kejahatan orang dengan kebaikan, melainkan lebih dari itu: memberi kebaikan sedemikian rupa hingga layaknya karib yang selalu bersama.

Tak perlulah heran jika gambaran-gambaran peristiwa dan situasi macam dalam ayat ini sangat berbeda dengan yang ditampilkan kelompok yang menyebut diri “pembela” itu. Ini barangkali tak penting lagi. Rasa percaya diri lebih urgen. Rasa yakin yang tak tergoyahkan, bahwa yang sedang dibela adalah sesuatu yang luhur, jauh lebih diperlukan. Ada dua rasa percaya yang lebih mendesak ditanamkan: layak sebagai pembela dan ada yang pantas dibela.

Yang pertama dibangun dengan terus-menerus membangkitkan rasa percaya diri yang supertinggi, seperti sebuah suara “aku adalah wakil umat Islam”, yang diwiridkan dalam diam, dalam dunia taksadar, hingga mengental menjadi mental. Yang kedua dibangkitkan dengan menegakkan jari telunjuk, menuding ke sebuah arah: ada yang telah menodai Islam.

Maka, ketika ada tombol berbunyi: “Betul Si Gendut telah menghina Islam?”, raga-raga dengan dua rasa percaya itu segera bereaksi otomatis: “Betul.” Lalu kita tahu kemudian yang terjadi: raga-raga itu berubah jadi kerumunan dengan satu bunyi “membela Islam” menggasak target-target yang diidentifikasi sebagai “menghina Islam”. Padahal kita juga tahu: yang disebut “menghina Islam” itu tak lain adalah suara lain yang menggentarkan si “pembela”. Suara lain yang tak mau mengangguk oleh teriakannya, yang lalu dirasa sebagai sebuah ancaman.

Dan, di mana lalu Islam? Di mana “yang dibela”? Kabur, atau yang dibela mungkin adalah sebuah perasaan yang terancam. Sebab kita tahu jihad, sebuah ide perjuangan yang paling dikenal, tak pernah beriringan dengan konsep “membela Islam”. Jihad, sebuah upaya sungguh-sungguh yang melibatkan totalitas raga dan jiwa yang celakanya telah tereduksi menjadi sekadar pembenar aksi-aksi brutal, terasa pas diiringi ‘fî sabîlillah’, di jalan Allah.

Tengok lagi: berjuang sungguh-sungguh di jalan Allah, dan bukan membela Allah. Tapi kita barangkali sudah patut bersyukur, embel-embel itu baru “membela Islam”, belum sampai “membela Allah”. Jika yang terakhir ini terjadi, kita sudah tak tahu lagi apakah Al-Qawiy akan diungguli hanya oleh sebuah rasa percaya diri supertinggi. Wallahu A’lam.