Arab Saudi Akan Eksekusi Mati Tiga Ulama Ini, Apa Penyebabnya?

Arab Saudi Akan Eksekusi Mati Tiga Ulama Ini, Apa Penyebabnya?

Seminggu belakangan, ramai berita di dunia internasional tentang akan dieksekusinya tiga ulama Saudi Arabia oleh Pemerintahnya sendiri. Di antara tuduhannya adalah, keterlibatan terhadap gerakan terorisme. Tiga Ulama Saudi tersebut adalah Salman Audah‘Awwadh al-Qorni, dan ‘Ali al-Omari. Eksekusi dikabarkan akan dilaksnakan tidak lama setelah bulan Ramadan. Eksekusi ketiga ulama ini adalah bagian panjang dari penangkapan sekitar 37 ulama Saudi Arabia selama tahun 2017.

Berita ini di antaranya disiarkan oleh al-Jazeera dan middleeyes.net. Situs kedua adalah situs yang paling banyak dikutip di portal-portal berita lain. Sebelum dilanjutkan, sulitnya menulis informasi tentang Arab Saudi adalah, sangat sulitnya mendapatkan penjelasan yang lengkap atas suatu peristiwa dan tidak ada “bagian humas” dari Pemerintah yang menjelaskan dengan jelas alasan penangkapan atau peristiwa apapun terkait pemerintah.

Mengutip middleyes.net, yang sangat janggal, tuduhan tersebut tidak sejalan dengan apa yang terjadi sehari-hari di kalangan ulama tersebut. Misalnya Salman Audah, ia adalah sosok yang sudah lama dikenal sebagai diantara sekian ulama Saudi yang mendorong kepada sikap moderat dan progresif. Ia bahkan disebut-sebut oleh PBB sebagai barisan  ulama moderat.

Read More

Belakangan, Salman Audah menunjukkan sikapnya terhadap hubungan Arab Saudi dan Qatar yang kita tahun sedang memanas beberapa tahun terakhir. Ia pernah menulis cuitan di akun Twitter-nya untuk mendoakan agar terjadi rekonsiliasi antara Arab Saudi dan Qatar, tiga bulan setelah Saudi melakukan pemutusan hubungan diplomatik dengan Qatar.

Kemudian, ‘Awwadh al-Qorni juga ditangkap atas tuduhan terlibat kedalam gerakan terorisme. Ia adalah doktor di bidang Fikih dan Ushul Fikih, dosen di Universitas Muhammad bin Su’ud, serta penceramah yang terkenal di televisi. Dalam catatan di middleeyes, ia adalah anggota perkumpulan Shohwa, perkumpulan yang sempat populer di Saudi pada decade 80-90, berisi ulama-ulama muda dan tokoh yang memiliki ideologi mirip dengan al-Ikhwan al-Muslimun.

Terakhir, Ali al-Omari, ditangkap 2017 lalu. Ia adalah ulama Saudi yang ikut menyerukan kampanye hak asasi yang lebih baik terhadap perempuan serta mengkritik keras gerakan terorisme. Ia dikenal oleh banyak anak muda khususnya di Arab Saudi karena ia sering menyampaikan ceramahnya lewat aplikasi snapchat.

Ketiga direkomendasikan oleh an-niyaabah al-‘aammah untuk mendapatkan hukuman mati karena mereka dianggap melakukan konspirasi gerakan terorisme. Sebagian pengamat menilai kalau Arab Saudi seringkali menggunakan kampanye kontra-terorisme untuk membungkam – di saat yang sama – orang-orang yang mereka anggap sebagai ancaman, seperti kritikus dan aktivis HAM.

Misalnya, penangkapan ketiga ulama tadi sebenarnya tidak lebih dari taktik politik elit Arab Saudi untuk membersihkan semua jejak Ikhwan al-Muslimin di negaranya. Pasalnya, ketiga ulama tadi semuanya tercatat pernah bergabung dengan as-Showah al-Islamiyyah. Ketiganya juga tercatat tergabung ke lembaga al-Ittihad al-‘Aalami li ‘Ulama’ al-Muslimin (Persatuan Internasional Ulama Islam), lembaga yang dicap sebagai lembaga terorisme juga oleh Arab Saudi. Lembaga lainnya yang dianggap berafiliasi dengan kelompok terorisme adalah al-Majlis al-Aurubbi li al-Ifta’ wa al-Buhuts (Konsili Eropa untuk Fatwa dan Riset Keislaman), lembaga yang diketuai oleh Yusuf al-Qardhawi.

Mendiang Jamal Kashoggi, sudah memprediksi Saudi akan melakukan hal ini. Jurnalis yang belum lama ini meninggal secara tragis di Kedutaan Saudi Arabia di Turki ini, mengatakan bahwa Salman Audah akan dieksekusi bukan karena ia ekstrim, tapi justru karena ia moderat. Karena ia moderat (tapi kritis), ia menjadi ancaman bagi pemerintah.

Selengkapnya, klik di sini