
Meyakini keberadaan malaikat bagian dari rukun iman. Setiap muslim wajib beriman kepadanya. Maksud beriman di sini adalah meyakini dan membenarkan keberadaan Malaikat sebagai makhluk yang selalu mentaati perintah Tuhan. Islam menuntut kita untuk mengetahui Malaikat secara rinci dan mendalam.
Menurut Prof. Quraish Shihab, kita cukup meyakini bahwa Malaikat adalah makhluk gaib yang tidak dapat diketahui hakikatnya secara rinci dan juga jumlahnya, namun harus percaya pada keberadaannya. Kita mesti percaya Malaikat itu ada. Mereka bukan ilusi, fiksi, dan tidak menyatu dalam diri manusia. Kita juga harus percaya Malaikat adalah makhluk Tuhan yang paling taat dalam menjalankan perintah Tuhan, bagaimana bentuk fisik, cara menjalankannya, kita tidak diminta untuk mengetahui itu, sebab hal itu memang sudah di luar nalar manusia.
Dalam salah satu video pengajiannya, Prof. Quraish Shihab menegaskan ada banyak hal yang berkaitan dengan manusia yang dilakukan oleh Malaikat. Misal yang pertama, ada Malaikat yang ditugaskan untuk mencatat amal manusia, baik amal baik atau buruk. Dalam surat al-Qaf ayat 18, Allah berfirman:
مَّا يَلْفِظُ مِن قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ
“Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir,” (QS: Al-Qaf ayat 18)
Sangat populer di tengah kita nama malaikat pencatat amal atau pengawas ini Raqib dan Atid. Raqib berada di sebelah kanan, sementara Atid sebelah kiri. Tidak diketahui secara pasti dari mana sumber informasi ini. “Terus terang saya tidak mengetahui dari mana dasarnya,” Ujar Prof. Quraish Shihab.
Merujuk ayat di atas, kalau dikatakan nama dua Malaikat pengawas itu, Raqib dan atid, mestinya redaksi ayatnya, raqib wa atid. Tapi nyatanya, redaksi ayatnya, raqib ‘atid. Raqib artinya mengawasi, atid selalu hadir.
“Saya terang terang, tidak tau sumbernya ketika ada yang berkata, Raqib dan Atid. Tetapi bahwa penjelasan ada Malaikat yang mencatat amal-amal setiap orang itu ada dasarnya, dia selalu hadir, itu diambil dari hadis Nabi SAW. Hadisnya bukan hadis Mutawatir. Mau percaya boleh, tidak percaya juga tidak apa-apa. Malaikat itu selalu mengawasi amal manusia, tidak berpisah dengan manusia, kecuali pada saat manusia membuka auratnya,” Jelas Prof. Quraish Shihab.
Perlu diketahui, selain mencatat amalan, Malaikat juga ditugaskan untuk mengawasi manusia. Tugas pengawasan itu mestinya tidak mencari-cari kesalahan, kalau perlu dia luruskan kalau ada yang salah. Makanya, Malaikat pencatat amal, atau Raqib dan Atid ini, belum mencatat apa-apa kalau kita masih berniat buruk. Niat buruk tidak dicatat, niat baik baru dicatat. Karena dia tidak bermaksud untuk mencari kesalahan, maka kita tidak perlu khawatir dengannya.
“Jadi anda harus percaya, bahwa ada malaikat yang mencatat amal-amal anda. Apa dia di pundak anda atau bukan, tidak menjadi persoalan. Tidak ada juga pernyataan yang menjealskan dia di kanan atau kiri, itu soal penafsiran,” Tambah Prof. Quraish Shihab.
Kemudian, ada pula Malaikat yang ditugaskan untuk memelihara manusia. Ini dipahami dari surat al-Thariq ayat 4:
إِن كُلُّ نَفْسٍ لَّمَّا عَلَيْهَا حَافِظٌ
“Tidak ada suatu jiwa pun (diri) melainkan ada penjaganya.” (QS: Al-Thariq ayat 4)
Oleh sebab itu, kalau kita perhatikan, ada anak kecil jatuh dari pesawat, dia tida apa-apa. Kenapa ini bisa terjadi? Karena dia dijaga oleh Malaikat. Allah punya rencana menyangkut semua orang, sebab itu Allah menugaskan Malaikat untuk menjaganya.
Kalau Nabi Muhammad, kata Prof. Quraish Shihab, yang dipelihara bukan hanya keamananya, tetapi juga setiap langkahnya. Ketika Nabi kecil, beliau ingin melihat keramaian, begitu sampai di sana, Nabi tertidur, bangun-bangun sudah pagi. Ini bisa terjadi karena ada Malaikat yang menjaganya.
Ada juga Malaikat yang ditugaskan untuk memantapkan hati manusia. Contohnya, kalau kita menemukan barang yang bukan milik kita, kemudian di dalam hati ada bisikan jangan ambil, itu dari Malaikat. Tapi kalau bisikannya suruh ambil, berati dari setan.
Percaya kepada Maikat jelas membawa keuntung bagi manusia. Di antaranya, dengan mempercayai adanya Malaikat pencatat amal, kita jadi mikir-mikir untuk melakukan perbuatan buruk, sekalipun dalam sendirian.
“Kira-kira ada untungnya percaya malaikat atau tidak? Ini yang agama inginkan, percaya ada malaikat. Ada yang catat saya, saya tidak mau kerja buruk ini. Saya sendirian, ada malaikat. Itu untungnya, jadi seandainya, nanti ternyata tidak ada malaikat, anda sudah untung,” Jelas Prof. Quraish Shihab.