Anies Baswedan, Gus Miftah & Tausiyah Adem yang Dirindukan Warga Jakarta

Anies Baswedan tampak berjalan beriringan dengan Gus Miftah. (Source: IG Gus Miftah)

Anies Baswedan, Gus Miftah & Tausiyah Adem yang Dirindukan Warga Jakarta

Di Balik Anies Baswedan memberi izin Gus Miftah ceramah di Jakarta

Gus Miftah tertawa, tak lama ia merangkul  Anies Baswedan. Keduanya pun berbincang lalu berjalan beriringan. Gus Miftah yang memakai kupluk jawa, berkacamata hitam dan sarung dengan warna serupa menggandeng lengan Anies Baswedan yang hari itu memakai setelan gubernuran lengkap: pantofel, baju dinas dan songkok.

“Saya hanya mau foto di ruangan beliau ini,” tutur Gus Miftah.

Anies Baswedan pun tersenyum. Gubernur yang kerapkali diasosiakan sepihak ‘dekat’ dengan kelompok ultrakonservatif itu usai gelaran Pemilukada 2017 itu pun menerima permintaan dengan tangan terbuka. Bahkan, menurutnya, Gus Miftah tidak perlu untuk izin karena berdakwah itu hak semua orang.

Read More

Permintaan ini jelas bukan sekadar berceramah biasa maupun semacamnya, tapi izin untuk berdakwah di klab-klab malam maupun tempat underground. Tempat-tempat yang memang jarang dimasuki, bahkan cenderung dihindari oleh para penceramah. Gus Miftah adalah pengecualian.

“Jadi, karena saya merasa punya saudara di Jakarta, Mas Anies Baswedan, dan kemudian ada isu-isu yang datang yang tidak enak. Mas Anies itu terbuka untuk siapa pun, Alhamdulillah di sini saya diterima dengan baik oleh Mas Anies dan bisa berbagi bersama jemaah di masjid balai kota,” ucap Gus Miftah kepada wartawan di Masjid Fatahillah.

Tentu saja, peristiwa ini menjadi cukup menarik mengingat posisi Anies yang rentan disalahtafsirkan. Anies adalah seorang demokrat dan ahli ilmu politik, tapi di sisi lain, sebagian di antara kita mengingatnya sebagai tokoh sentral dalam geliat politik—dan maraknya politik identitas— yang kian ke kanan melalui gerakan 212 dan sejenisnya. Padahal, keduanya bisa jadi salah belaka.

Anies tetaplah Anies dan ia tidak mungkin jadi corong gerakan intoleran atau sejenisnya. Kelak, sejarah yang membuktikan dua sisi itu. Meskipun, harus sama-sama kita paham, politik identitas yang kerap ditautkan ke kelompok pengusung Anies Baswedan, faktanya, di gelaran pilpres lalu antara Jokowi-Prabowo keduanya juga mengenakan baju politik identitas.

Untuk itu, Anies harus memberi dukungan yang masif untuk Gus Miftah maupun ustadz sejenisnya biar politik identitas dan polarisasi di masyarakat ini tidak kian melebar. Dukungan beliau ini bisa dilakukan dengan cara, misalnya, memerintahkan instansi untuk memberi ‘jatah’ di kegiatan-kegiatan keagamaan di tempat mereka. Kenapa masjid? Banyak sekali riset tentang masjid-masjid instansi pemerintah ini justru menjadi ladang tumbuh suburnya paham intoleransi maupun ultrakonservatisme, Anda cukup mengetikkan jari di google.

Nah, Gus Miftah ini bisa menjadi pintu masuk untuk beberapa penceramah lain, baik dari NU, Muhammadiyah maupun organisasi manapun untuk lebih berperan dalam menyatukan kembali, meminjam bahasa Anies, tenun kebangsaan–yang telah retak dan terpolarisasi karena politik.

Polarisasi ini, kalau Anda bukan Cebong maupun Kampret atau justru keduanya, maka sudah sepatutnya kita masukkan ke keranjang sampah. Efek yang ditimbulkan, salah satunya, membuat kita tidak bisa adil dalam segala sesuatu, khususnya urusan kebijakan dan tata kelola pemerintahan. Bias ini, salah satunya, adalah menjadikan begitu bias dan berkacamata kuda dalam memandang segala sesuatu.

Kita tentu saja boleh tidak suka terhadap pribadi seseorang, tapi sebagai harusnya bersikap adil dan itu susah. Sebagai pejabat publik, yang dinilai adalah kerja dan cara menunaikan janji dalam kampanye. Bukan kok hanya karena gubernur atau presiden tersebut bukan sosok yang kita pilih lantas kita dukung membabi buta, atau sebaliknya menolak dan serta merta menyalahkan segala hal—meskipun itu baik.

Yang dibenarkan, tentu saja, adalah mengawasi.  Dan, justru itu tugas utama pasca pemilu rampung. Termasuk urusan keagamaan ini mengingat begitu gampangnya agama dijadikan bara api di tengah masyarakat kita.

“Insyaallah besok, tanggal 8 Agustus sore, pukul 17.00 WIB, saya akan mengawali pengajian di salah satu klub Jakarta dan sudah diizinkan oleh owner-nya dan saya kulonuwun sama Pak Gubernur supaya lebih banyak lagi tempat-tempat dunia malam yang bisa saya masuki untuk mengenalkan Allah kepada mereka,” tambah Gus Miftah.

Usaha-usaha kecil untuk menyatukan ini tentu saja patut diapresiasi. Bisa saja Gus Miftah tidak perlu minta izin, toh tidak masalah. Tapi peristiwa kecil ini merupakan salah satu cara sederhana untuk lebih mendekatkan simpul-simpul yang mulai retak politik identitas yang mulai meremukkan sendi-sendi bermasyarakat kita laiknya rayap.

“Kita bersyukur, saya berharap kita bisa betul-betul membangun suasana Jakarta yang teduh aman dan damai untuk semua,” ucap Anies.

Mungkin Anies menyadari, masyarakat sudah kian terbelah dan Jakarta adalah contoh nyata. Barangkali itu alasan mengapa ia bilang Jakarta ‘teduh’ dan ‘aman’ sebagai pilihan diksi. Jakarta, Pak Anies, rindu tausiyah yang teduh dan menentaramkan, bukan yang sangat politis maupun penuh kebencian seperti yang terjadi dalam pemilu beberapa waktu lalu. Itu saja.