Allah

Allah

Allah

Dalam Al Quran, Tuhan memperkenalkan diri dengan nama Allah. Setidaknya Al Quran mengabadikan nama Allah sebanyak 2968 kali.

Kata Allah berasal dari kata “ilah “yang mendapat prefix “Al” (Al+ilah). Ilah sendiri merujuk pada sesuatu yang dicintai, digandrungi, dicandui, dan dipuja-puji dengan segenap rasa dan pikiran. Dalam bahasa inggris dapat dipadankan dengan “idol”, yang dialih-bahasakan menjadi “idola ” dalam bahasa Indonesia.

Sedangkan, Al merujuk pada sesuatu yang satu, yang itu, yang tertentu atau yang tunggal. Padanan dalam bahasa Inggris adalah “The”. Artinya, Allah adalah Dia yang satu ;yang dicintai dan digandrungi. Konsepsi tentang “ilah “ini dikenal sebagai tauhid uluhiyah.

Allah mempunyai Padanan kata dengan “The Idol”, dalam bahasa Inggris. Namun, karena Allah adalah sebuah nama (ismun), Dia tidak bisa diterjemah ke dalam segala bahasa. Allah harus disebut dengan Allah dalam bahasa apapun sebagaimana Mr.Brown tetap dipanggil Pak Brown, bukan Pak Coklat.

Lantas, siapakah Allah itu? Dalam surat Al-ikhlas (112), dijelaskan bahwa Allah itu Esa (112:1), tidak beranak dan tidak diperanakkan (112:3), dan tak ada yang setara dengan Dia (112:4).

Bandingkan konsepsi tentang Tuhan ini dengan yang tertuang dalam Sutta Pitaka, Udana VIII:3, Shidarta Gautama bertutur :

“ketahuilah para Bhikku bahwa ada sesuatu yang Tidak Dilahirkan, Tidak Menjelma, Tidak Tercipta, yang Mutlak. Duhai Bhikku, bila tidak ada yang Tidak Dilahirkan, Tidak Menjelma,Tidak Diciptakan, yang Mutlak ; maka tidak mungkin kita terbebas dari kelahiran… ”

Jelas, konsepsi Tuhan yang dituturkan Shidarta Gautama sama persis dengan surat Al-ikhlas.

Konsepsi Tuhan sebagai Supra-inderawi (meminjam Toyyinbe) yang absolut ini dalam agama Hindu disebut sebagai “OM”, konfusius menyebutnya sebagai “TAO”. Dan, orang-orang Jawa menyebutnya “Sang Hyang Kang Murbeng Dumadi “.

Sama dengan Al Quran, agama nasrani juga menyebut Tuhan dengan “ALLAH” tetapi beda pengucapan. Nama Allah sendiri – dalam penelusuran Karen Armstrong – sudah ada jauh sebelum Muhammad diutus menjadi nabi.

Bandingkan pula penyebutan Tuhan dalam bentuk tunggal pada bahasa Ibrani “Eloh” (Elohim – jamak) yang mirip dengan penyebutan “Alloh ” dalam tradisi muslim.

Artinya, dari uraian singkat di atas, semua agama mempunyai tradisi tauhidisme, Tuhan yang satu dan mutlak. Dia adalah “TAO “, yang tak dapat didefinisikan. Semua agama, mempunyai ajaran untuk menyembah “Yang Satu “.

Muhammad datang membawa ajaran Islam bukan untuk menyalahkan agama-agama terdahulu , tetapi untuk menyempurnakan. Semua nabi adalah saudara.

Saya tutup tulisan ini dengan ungkapan terkenal dari Syaikh Al Akbar Ibn ‘Araby :

“Tuhan tidak butuh nama, manusialah yang butuh nama ”

Haris El Mahdi
[email protected] Haris El Mahdi