Ketika Allah Menolak Pengaduan Rasulullah SAW

Ketika Allah Menolak Pengaduan Rasulullah SAW

Ketika Allah Menolak Pengaduan Rasulullah SAW

Pagi itu matahari mulai tinggi. Teriknya sudah terasa. Lima puluh pasukan pemanah Islam satu demi satu menaiki bukit kecil di samping Gunung Uhud. Rebana sudah berbunyi, bersahut-sahutan. Ini pertanda perang antara umat Islam dan orang musyrik Mekah sebentar lagi akan terjadi.

Tak lama kemudian, perang sudah berlangsung. Walau jumlah pasukan umat Islam hanya 700 orang melawan tiga ribuan pasukan musyrik, tanda-tanda kemenangan Islam sesungguhnya sudah mulai kelihatan. Ratusan tentara musyrik lari tunggang langgang. Hindun, istri Jenderal Abu Sufyan ibn Harb, terbirit-birit sehingga betisnya yang putih tampak dari kejauhan.

Namun, tentara Islam tak sabar. Pasukan pemanah bergegas menuruni bukit, memungut dan berebut barang ghanimah yang berserakan. Di sinilah kisah pilu itu bermula. Tanpa diduga, pasukan berkuda pimpinan Khalid ibn Walid dan Ikrimah menaiki bukit kecil itu. Mereka dengan cepat melesatkan anak-anak panahnya ke pasukan Islam. Tentara Islam kucar-kacir.

Banyak pasukan inti Islam gugur. Mulai dari Abu Dujanah hingga Hamzah, paman Nabi. Bahkan, Nabi pun terluka. Abdullah ibn Shihab berhasil melukai kening Nabi. Ibnu Qami’ah menghunjamkan pedang ke bahu kanan dan pelipis Nabi SAW. Dua pecahan baja menusuk pelipisnya. Muka Nabi SAW berlumuran darah.

Nabi SAW marah. Beliau mengadu pada Allah, “bagaimana suatu kaum akan berbahagia jika melumuri wajah nabinya dengan darah”. Allah SWT tak menggubris seruannya. Ia justru menegur Nabi SAW, “itu bukan urusanmu (Muhammad), apakah Allah menerima tobat mereka atau mengazabnya karena mereka adalah orang-orang zalim”. (QS, Ali Imran [3]: 128).

Apa yang dikhawatirkan Nabi SAW tak terjadi. Banyak pasukan musyrik yang terlibat dalam perang Uhud itu yang dalam perkembangan kemudian justru masuk Islam. Di antaranya adalah Abu Sufyan, Khalid ibn Walid, Ikrimah ibn Abi Jahal.

Abu Sufyan kelak dikenal sebagai jenderal besar yang memperjuangkan Islam. Khalid ibn Walid mendapat julukan “saif Allah” (pedang Allah). Ikrimah pun bukan hanya kesohor sebagai panglima perang yang hebat. Ia juga dikenal sebagai intelektual yang dahsyat, banyak meriwayatkan hadits-hadits Nabi SAW.

Minggu, 16 April 2017
Salam,

Abdul Moqsith Ghazali