Aksi Terorisme: Sebuah Kajian Psikologi (Bag.3)

ISIS menggunakan islam sebagai teror. Photo by Daily Mail

Aksi Terorisme: Sebuah Kajian Psikologi (Bag.3)

Saat pembenaran moral sudah ditemukan, berikutnya, mereka bergabung atau “ditemukan” oleh organisasi-organisasi teroris. Waktu masih di lantai ketiga mungkin mereka telah mengembangkan jejaring yang mendekat ke lingkaran-lingkaran utama organisasi teroris. Sehingga, di lantai keempat, mulailah secara resmi mereka menjadi anggota dari kelompok-kelompok pelaku kekerasan ini. (Baca: Aksi Terorisme: Sebuah Kajian Psikologi Bagian-1)

Ini tahapan yang sudah mulai membahayakan dan cenderung tidak bisa dibatalkan. Justifikasi moral yang telah terbentuk di lantai ketiga, menemukan jalan menuju implementasi operasional. Sang kandidat belajar hal-hal teknis dari tindak terorisme dan membentuk legitimasi cara pandang garis keras tentang “kami” melawan “mereka”. Kebenaran mulai diyakini hanya ada di kelompok terorisme yang mereka masuki. Selain opini versi rekan-rekan mereka di organisasi tersebut, semua opini adalah salah.

Terakhir, di lantai kelima, sang aktor terorisme meruntuhkan semua hambatan yang dirasakan secara psikologis dalam mengeksekusi representasi pihak lawan. Di tahap ini mereka berkomitmen misalnya untuk meledakkan bom bunuh diri, menikam dengan belati, menabrakkan mobil atau memberondong dengan peluru dari senapan mesin.

Read More

Semua keengganan melakukan tindakan keji tersebut diruntuhkan di lantai kelima ini (Baca: Aksi Terorisme: Sebuah Kajian Psikologi Bagian-2) . Empati pada sasaran, rasa kemanusiaan, dan bayangan atas penderitaan yang akan ia timbulkan pada orang lain hilang di tahap ini. Akumulasi kemarahan di lima tahap sebelumnya dibuat lebih intensif lagi untuk melawan setiap keengganan menyakiti sesama manusia.

Uraian di atas, nampaknya cukup sesuai dengan yang dibayangkan banyak orang. Tahapan yang digambarkan model dari Moghaddam ini terdengar masuk akal. Sayangnya, meski berbasis riset bertahun-tahun, model ini terlalu linear. Dalam beberapa hal juga terkesan menyederhanakan persoalan.

Model enam tangga tidak dapat menjelaskan, misalnya, tentang mengapa ada teroris yang beraksi sendirian dan sebenarnya tidak mengalami ketidakadilan tertentu di daerah tempat tinggalnya atau negaranya. Para lone-wolf ini biasanya terpicu oleh solidaritas pada kelompok yang memiliki kesamaan identitas ideologis dengan dirinya di negara lain. Mereka tidak menapaki tangga atau lantai-lantai Moghaddam, namun tak lama setelah merasakan solidaritas, mereka mulai bersiap melakukan tindakan teror.

Moghaddam nampaknya juga kurang memperhitungkan bahwa ada orang yang memiliki paham radikal namun seumur hidup tidak pernah jadi teroris. Sebagaimana disebutkan di atas, perjalanan dari paham atau sikap menuju perilaku kongkrit tidak sederhana. Beberapa sikap bahkan tidak pernah mewujud dalam perilaku kongkrit. Contoh, banyak orang memiliki sikap positif terhadap himbauan untuk berhenti merokok demi alasan kesehatan, namun tetap saja mereka tidak bisa menghilangkan atau tidak mau berhenti merokok.

Model Dua Piramid

Keberatan-keberatan terhadap teori Moghaddam di atas nampaknya terjawab pada model teoretis lain yang diajukan oleh Clark McCauley dan Sophia Moskalenko yaitu model dua piramida (two pyramids model). Model ini mengilustrasikan tentang dua rute perjalanan yang berbeda dalam hal perkembangan opini radikal dan tindakan radikal. McCauley dan Moskalenko memprediksi bahwa bahkan tanpa opini radikal yang canggih pun, tindakan radikal tetap bisa muncul. Sebaliknya, opini radikal yang kuat tidak serta merta menjadikan seseorang sebagai pelaku tindakan radikal.

Piramida Opini Radikal

Dalam model dua piramida terdapat, sebagaimana namanya, dua “struktur” piramida yang menggambarkan pemuncakan yang berbeda antara opini radikal dan tindakan radikal. Pada struktur piramida opini, ada tiga tingkat perkembangan opini yang dimulai dari (1) netralitas, berlanjut ke (2) simpati, lalu (3) justifikasi dan (4) tanggung jawab moral.

Pada posisi pertama, seseorang tidak memiliki sikap khusus terkait tindakan terorisme atau isu politis yang berhubungan dengan ideologi atau agama apapun. Di tingkat kedua, muncul sikap bersimpati pada mereka yang memperjuangkan suatu agenda politik berbasis moralitas suatu paham. Di tingkat ke 3, bukan sekedar simpati tapi juga mulai membangun atau memahami argumen-argumen yang membenarkan perjuangan tersebut. Bila proses radikalisasi berlanjut, maka di tingkat empat terbentuklah rasa tanggungjawab moral untuk terlibat dalam perjuangan tersebut.

Berbeda dengan model enam tangga, model dua piramid ini tidak mengasumsikan urut-urutan yang baku. Seseorang dapat saja melompat dari tingkat 1 langsung ke tingkat 4 atau dari tingkat 4 kembali lagi ke tingkat 1, 2 atau 3.

Piramida Tindakan Radikal

Dalam struktur piramida yang kedua, kita menjumpai tataran-tataran intensitas tindakan yang berbeda. Di dasar piramida terdapat orang-orang yang tidak melakukan apa-apa terkait suatu kondisi politik. Di tingkat berikutnya, adalah kelompok orang yang melakukan aksi legal terkait kondisi politik tersebut, mereka disebut sebagai para aktivis. Ini termasuk mereka yang melakukan aksi damai, mimbar bebas, dan berserikat dengan agenda sosial politik yang menjadi perhatian mereka.

Kemudian, di posisi berikutnya di piramida, terdapat mereka yang melakukan tindakan ilegal dalam memperjuangkan aksinya, namun belum sampai pada menyasar korban atau target warga sipil, mereka disebut para radikalis. Tindakan ini beragam, dari mulai sekedar merusak properti yang menjadi simbol-simbol lawan mereka, menyakiti aparat keamanan atau tentara (sampai membunuhnya), sampai melakukan sabotase-sabotase di ruang cyber secara intensif.

Terakhir, dan ini adalah puncak dari tindakan radikal, mereka menyasar warga sipil yang tak bersenjata dengan tujuan melukai maupun menghilangkan nyawa. Inilah yang oleh McCauley dan Moskalenko sebagai teroris.

Serupa dengan piramida opini, di piramida tindakan radikal juga tidak terdapat prinsip tahap demi tahap. Siapa pun bisa melompat dari tahap paling dasar dan langsung menuju tahap puncak dengan kondisi-kondisi yang tepat.

Bahkan, kedua piramida tidak selalu sebuah kontinuitas. [Bersambung]

Baca tulisan sebelumnya:

Aksi Terorisme: Sebuah Kajian Psikologi (Bag.1)
Aksi Terorisme: Sebuah Kajian Psikologi (Bag.2)