Akar Masalah Beragama dengan Eksklusif

Akar Masalah Beragama dengan Eksklusif

Beragama harusnya mendekatkan dengan Tuhan sekaligus manusia, bukan satu sisinya saja

Tindakan premanisme (vigilante) dan kekekerasan (violance) atas nama agama belakangan ini banyak terjadi dikalangan masyarakat kita. Dalam hal ini pelakunya ditengarai adalah kelompok-kelompok keagamaan yang merasa paling benar sendiri. Siapakah mereka? Pokoknya, mereka yang secara tidak langsung menjustifikasi bahwa pihak-pihak diluar kelompoknya dan yang memiliki pemahaman yang berbeda berada pada jalur yang salah, sesat.

Berdasarkan hal tersebut penulis menyimpulkan bahwa akar dari tindakan premanisme dan kekerasan atas nama agama tidak lain adalah ekslusifisme yang telah akut menyerang cara berpikir kelompok-kelompok tersebut sehingga membutakan mereka dari cara pandang objektif terhadap kelompok lain.

Sedangkan jika ditelusuri lebih mendalam lagi, menurut hemat penulis, salah satu benih penyebab tumbuh suburnya padangan eksklusif adalah kontruki penggambaran musuh (enemy image) yang sudah terlanjur mengakar kuat dalam pikiran.

Read More

Munculnya istilah “musuh Islam” atau “kafir” dan istilah-istilah lainnya merupakan bentuk dari penggambaran sosok musuh tersebut. Istilah demikian seringkali digunakan oleh  kelompok ekslusif untuk memberikan label kepada kelompok lain yang berbeda ideologi, atau bahkan hanya sebatas pendapat terkait suatu perkara, dengan mereka. Sehingga  seakan-akan mereka yang berada diluar kelompoknya adalah musuh yang nyata.

Di sinilah menurut penulis kegagalan para kelompok eksklusif dalam memahami keragaman dalam beragama. Padahal, bukankah, perbedaan adalah sebuah keniscayaan sebagaimana yang termaktub dalam al quran Q.S. AL Baqarah (2): 1 dan secara tersirat terkandung dalam kaidah ushul fiqh “kullu ra’sun ra’yun,” setiap individu mempunyai pendapat – yang bisa jadi sama atau pun berbeda.

Kembali pada akar timbulnya eksklusivisme, Enemy Image. Pengidentifikasian diri kepada suatu kelompok dan membedakan dengan liyan(us and them) adalah salah satu fase yang paling mendasar dalam membentuk idenditas diri. Hal tersebut adalah sebuah kewajaran dalam kehidupan manusia, namun jika berlebihan maka hasilnya adalah timbulnya pandangan yang berlebihan pula dalam mengunggulkan diri dan memandang liyan (others) tidak lebih baik dari diri atau kelompok sendiri, stereotip.

Stereotip kemudian memunculkan kontruksi gambaran sosok musuh. Dengan catatan jika hal tersebut dibarengi dengan perasaaan bahwa eksistensi kelompok liyanadalah sebuah ancaman. Terlebih lagi jika kelompok liyantersebut mempunyai catatan sejarah buruk bagi kelompok eksklusif. Dalam hal ini, Syiah bisa menjadi contoh sebagai kelompok liyantersebut.

Kontestasi yang terjadi antara Syiah dan Sunni sepanjang sejarah umat Islam diberbagai bidang turut berkontribusi terhadap eskalasi narasi akan bahaya laten Syiah yang sudah mengakar kuat pada kebanyakan kelompok Sunni muslim Indonesia, maka jika isu tentang  ekistensi Syiah muncul disuatu daerah, potensi timbulnya konflik dengan masyarakat sekitar wa bil husus mereka yang berpikiran eksklusif sangatlah besar. Meskipun pada kenyataannya, Syiah sendiri pun terbagi menjadi banyak golongan dan mereka tidak lah satu suara (univocal).

Hal tersebut tidaklah berlebihan. Menurut Marja Vourinen dalam bukunya “Enemy Image in War Propaganda” mengatakan bahwa narasi enemy image yang terus diproduksi akan menciptakan gambaran “musuh besar”  yang melekat pada suatu kelompok.

Akhir kata, sebagai umat beragama yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan dan perdamaian, sudah selayaknya kita menghindari nalar berpikir secara eksklusif. Salah satu caranya adalah menghindari benih dari pohon ekslusifisme itu sendiri, yakni stereotip. Stereotip sendiri seperti halnya dua mata koin yang, secara tidak langsung bisa dipastikan, akan selalu beriringan dengan sifat membanggakan diri sendiri atau kelompok.

Menurut hemat penulis, pandangan ini bisa dikategorikan sebagai sebuah dhonn (prasangka) karena kebenaran akan pandangan yang berlebihan tersebut belum tentu benar adanya. Prasangka ini lebih condong kepada subjektifitas belaka.  Dan Al Quran mengajarakan kita untuk menghindari banyak berprasangka sebagaimana disebutkan dalam Q.S. Al Hujurat: 12 karena sebagian prasangka adalah dosa “inna ba’da dhonni itsmun.

Sedangkan sifat membanggakan diri adalah bagian dari sifat sombong yang secara eksplisit dilarang keras oleh Allah. Selain identik dengan kisah terusirnya Azazil – sang mantan malaikat (the Fallen Angel) dan kemudian dijuluki dengan nama Iblis – yang sangat alim dari surga karena kesombongannya, sifat ini tidaklah layak dimiliki oleh siapapun dan makhluk apa pun kecuali Dia.

Dengan meruntut akar dari eksklusivisme sebagaimana penulis tuturkan diatas, mereka (kelompok ekslusif) dalam beragama secara tidak langsung telah menengadahkan muka dengan congkak, sombong memandang rendah liyandan menghegemoni kebenaran atas nama agama; padahal kebenaran mutlak dan kesombongan seharusnya hanyalah milikNya, Dzat yang berhak menyandang segala sifat Gumede.