Agama Teks dan Teks Agama

Agama Teks dan Teks Agama

Agama dianggap tidak relevan, bagaimana seharusnya?

 

Di saat turun hujan lebat, ada seseorang yang asyik menyiram tanaman sambil berpayungan. Suatu keadaan yang terlihat aneh dalam penglihatan orang-orang normal.

Ketika ditanya, mengapa masih menyiram pohon di tengah hujan lebat? Dengan tegas dan yakin orang tersebut menjawab bahwa menyiram tanaman adalah tugas dan kewajiban yang harus dilakukan sesuai perintah yang diberikan. Dan dia merasa harus menjalankan perintah tersebut apapun kondisinya tanpa melihat konteks dan menganalisa tujuan dari perintah tersebut.

Read More

Kejadian ini bisa diibaratkan orang-orang yang memahami dan mengamalkan agama secara tekstual, mengabaikan kondisi sosial dan makna konotatif yang tersirat dalam suatu teks. Padahal tidak semuat ayat dan teks agama bisa dimaknai dan dipahami secara tekstual, denotatif. Menurut para ahli tafsir, banyak teks agama memiliki makna konotatif, terutama ayat-ayat mutasabihat.

Pada ayat seperti ini diperlukan pemahaman atas konteks sosiologis dan historis turunnya ayat untuk mengetahui makna yg lebih tepat dan akurat. Atas dasar ini maka lahir beberapa perangkat ilmu untuk bisa menafsirkan dan memahami teks agama, misalnya ilmu asbabul nuzul, asbabul wurud, ulumul qur’an, musthalah hadits, balaghah, nahwu, shorof dan sejenisnya.

Perangkat keilmuan ini sangat diperlukan bukan saja karena tingginya nilai sastra dan gaya bahasa (uslub) dari teks-teks agama yg penuh metafora, aligoris dan simbolik, tetapi juga karena pembuat teks agama adalah Tuhan sesuatu yg tak tersentuh oleh indera dan tak terjangkau akal sehingga tdk mungkin dilakukan konfirmasi atas makna yang sebenarnya dari teks yang diturunkanNya.

Selain perangkat ilmu alat, diperlukan juga kebersihan hati dan kejernihan jiwa untuk memahami dan mengatahui makna suatu teks agama. Inilah yang menyebabkan banyak ulama melakukan riyadlah dan olah batin secara ketat demi menjaga kebersihan hati saat memaknai dan menafsirkan teks agama. Ini merupakan bentuk kehati-hatian dari para ulama terdahulu dalam menyampaikan dan menjaga teks agama.

Dalam beberapa catatan sejarah disebutkan, semua ulama besar selalu menjalani olah batin dan laku spiritual saat berguru dan menuntut ilmu. Imam ibn Katsir yang ahli tafsir, fiqh dan hadits menghabiskan sebagian besar waktu hidupnya unt berguru shg memperoleh ijazah secara spiritual maupun akademik dari ulama-ulama besar, diantaranya Abu Musa Al-Qarafi, Abu Fath ad-Dabbusi, Ali bin Umar Assawani dan lain-lain.

Imam Al-Quthubi penulis beberapa kitab tafsir dan hadits, selalu menjaga diri dari kesenangan dunia dengan besikap zuhud unt menjaga kejernihan hati dan kebersihan jiwa agar ilmu yang diperolehnya tdk tekotori oleh nafsu. Hal yg sama juga dialami oleh Imam Syafi’i. Beliau melakukan riyadloh sejak kecil melaui berbagai kesulitan hidup sehinnga membuat beliau memiliki hati yang jernih dan peka. Dlm hal ini Imam Malik pernah bicara lgs pada imam Syafi’i: “sesunguhnya Allah SWT telah menaruh cahaya dalam hatimu, maka jangan padamkan dengan perbuatan maksiyat”

Ulama-ulama besar Nusantara juga melakukan hal yang sama. Syech Nawawi Al-Batani, syech Arsyad al Bajari, Abdussomad al Farmbangi, Chatib al Minangkabowi dan lain-lain selalu berdzikir dan melakukan berbagai riyadloh batin saat belajar. Mbah Hasyim Asy’ari dan mbah Ahmad Dahlan sering melakukan puasa sunnah saat berguru pada Kyai Sholeh Darat. Tempaan batin dengan berbagai laku spiritual ini terus dialami mbah Hasyim saat beliau berguru pada Saichona Kholil Bangkalan.

Berkat olah batin melalui berbagai laku riyadlah ini para ulama bisa konsentrasi penuh dalam belajar sehingga bisa menguasi berbagai ilmu agama yg bisa digunakan unt memahami dan menafsirkan berbagai teks dan ayat-ayat Allah. Mereka tidak saja membaca ayat qauliyah (teks agama) secara tekstual dan memahaminya secara denotatif, tetapi juga membaca ayat-ayat kauniyah untk membantu memahami ayat qauliyah yang tekstual.

Dengan cara ini teks-teks mati dari ayat qauliyah menjadi lbh hdp karena tdk saja dipahami secara tekstual seperti sosok yg menyiram tanaman sambil payungan saat hujan demi melaksanakan perintah

Jika setiap perintah hanya dipahami secara tekstual dogmatis, tanpa mengkaitkan dg konteks dan spirit dari perintah tersebut, sebagaimana penyiram tanaman di atas memahami teks, maka agama akan kehilangan konteks, bahkan bisa mengalami disfungsi dan terpisah dari realitas. karena realitas terus berkembang, sedangkan teks itu statis.

Atas dasar ini maka para ulama melakukan berbagai ijtihad untuk memahami dan menjabarkan ajaran agama yg tercermin dalam teks, agar agama tetap relevan sepanjang zaman dan bermanfaat secara nyata dalam kehudupan manusia. Dengan keilmuan dan kedalaman spiritual para ulama memilah mana teks dogmatis yang harus dipertahankan secara tekstual dan mana teks-teks yg bisa direiterpretasi scr terus menerus sesuai realitas zaman. Hal ini dilakukan unt memperkuat posisi teks dogmatis. Ini terjadi krn tdk semua perintah yg ada dlm teks itu bermaka dogmatis.

Dengan cara ini teks agama benar-benar menjadi penunjuk jalan dan fondasi iman yg tetap memerlukan akal dan spiritual dalam pelaksanaan dan penjabarannya. Sebaliknya jika semua teks agama hanya dipahami dan diamalkan secara tekstual maka ummat beragama akan terbelenggu dalam penjara teks. Dan itu sama dengan menjadikan teks agama sebagai agama itu sendiri.[]