Agama Damai dan Kedangkalan-kedangkalan Para Pemeluk Agama

300 dpi SW Parra color illustration of many hands connecting together puzzle pieces, each with a different religious symbol. The Fresno Bee 2009<p> religious tolerance illustration interfaith diversity symbol symbols puzzle pieces hands working together team global belief god cross om shanti islam judaism; krtfeatures features; krtnational national; krtreligion religion; krtworld world; krt; mctillustration; belief; faith; values value; REL; 12000000; 12002000; 12006000; 2009; krt2009; parra fr contributed coddington mct mct2009 2009

Agama Damai dan Kedangkalan-kedangkalan Para Pemeluk Agama

 

“Agama dilahirkan untuk Perdamaian bukan Kekerasan.” (Gus Dur)

 

Read More

Kelahiran agama, hampir bisa dipastikan merupakan respon terhadap rusaknya sebuah tatanan, baik moral, ketidakadilan sosial dan sebagainya. Kanjeng Nabi Muhammad, misalnya, diutus Tuhan untuk merevolusi mental bangsa arab, pada saat itu, yang digambarkan dengan zaman sebutan jahiliyyah (brutalnya perilaku).

Demikian halnya Kristen. Yesus dari Nazareth yang lahir pada masa awal abad masehi, hadir di tengah-tengah ketertindasan dan ketidakadilan yang dialami oleh bangsa Yahudi baik yang dilakukan oleh imperium Roma selaku penguasa maupun bangsanya sendiri. Iya, para rabi yang atas nama agama lebih mementingkan ekspresi keagamaan secara ritual yang pada kenyataannya malah menyengsarakan para penganutnya.

Begitu pula dengan agama Budha. Kita mengenal Sidharta Guatama yang rela melepaskan kemewahan dan kekuasaannya dilingkungan kerajaan. Meskipun dia adalah satu-satunya putra mahkota yang akan mewarisi takhta kekusaan, namun dengan melihat kondisi rakyatnya dalam penderitaan sedangkan para bangsawan hidup dengan penuh kemewahan. Maka ia memutuskan untuk mencari kebenaran sejati. Laku kebenaran tersebut kemudian dikenal “dhamma” (bahasa Pali), sebuah ajaran hidup bagi umat manusia (John L. Posito: 2006). Pun sama halnya Laozi dengan Daoisme-nya, Kong HU Cu dengan Confusianism-nya  dan para tokoh pembawa risalah agama lainnya.

Nilai-nilai luhur dari setiap ajaran agama itulah yang kemudian mendorong manusia agar menjalani hidup sesuai jati dirinya, sebagai manusia dan berdasarkan nilai kemanusiaan  (human dignity).

***

Sebagai makhluk sosial, manusia mempunyai tanggung jawab untuk menjaga hubungan harmonis dengan sesama manusia. Itu karena, sebagaimana yang disebutkan  seorang filsuf kenamaan, Aristoteles (384-322 SM) yang mengatakan bahwa identitas manusia pada dasarnya adalah makhluk sosial (Zoon Political), makhluk yang diciptakan untuk saling berinteraksi dan bermsyarakat

Karenanya, akan sangat tidak masuk akal ketika ada makhluk sosial namun tidak memiliki keinginan untuk mewujudkan keharmonisan dalam relasi sosial dengan sesama manusia. Jika keharmonisan antar individu bisa terwujud, maka eskalasi hubungan harmonis dalam skala lebih besar pun akan lebih mudah untuk tercapai hingga nantinya bermuara pada perdamaian dunia.

Perdamaian dunia itulah yang sejatinya diperintahkan agama, sebagaimana slentingan Gus Dur di atas. Lihat saja, betapa banyak tek-teks keagamaan yang memerintahkah hal tersebut. Agama Kristen dengan ajaran “kasih” sesama manusia, Budha dengan dhamma yang mengajarkan untuk selalu bebuat baik dan melepas ketergantungan terhadap nafsu, termasuk nafsu egoisme, Islam dengan tujuan sebagai rahmatan lil ‘alamin (rahmat bagi alam semesta) yang secara tidak langsung bisa diartikan sebagai penebar perdamaian, dan sebagainya. Dan begitu juga dengan agama-agama lain di seluruh penjuru dunia.

Sebagai contoh, agama Kristen mengajarkan untuk saling mengasihi kepada sesama, bahkan kepada musuh sekalipun. Sebagaimana yang dijelaskan dalam Alkitab, Matius 5:39 “Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapapun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu.” Dari ayat tersebut, sangatlah tegas bahwa Yesus mengajarkan kasih dan perdamaian kepada umat manusia.

Sedangkan sang Sakyamuni Buddha mengajarkan, guna mencapai nibbana, manusia haruslah berusaha menjauhi tiga perkara yang merupakan akar penderitaan (samsara). Keserakahan (lobha), kebencian (dosa) dan kebodohan batin (moha), ketiganya tidak bisa dipungkiri merupakan penyebab berbagai masalah, termasuk perang, yang terjadi dibuka bumi sepanjang sejarah kehidupan manusia.

Begitu juga dengan Islam, dalam kitab suci Al Quran disebutkan “Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa, maka barangpsiapa memaafkan maka pahalanya atas (tanggungan) Allah, … (Q.S. Asy Syuro [42]: 40). Habib Quraish S. dalam Tafsir Al Misbah, menyebutkan bahwa memang balasan suatu perbuatan buruk adalah hal yang serupa.  Namun jika seseorang mau memaafkan, atas dasar cinta, dan memperbaiki hubungan baik dengannya, maka baginya adalah pahala yang hanya Allah semata yang mengetahui kadarnya.

Berdasarkan ajaran-ajaran di atas, penulis sampai saat ini meyakini bahwa tidak ada sama sekali agama yang tidak membawa misi perdamaian bagi kehidupan dunia–meskipun penulis hanya menyebutkan tiga agama sebagai contoh karena keterbatasan penulis. Akan tetapi kedangkalan-kedangkalan para pemeluk agama sendiri dalam memahami doktrin-doktrin agama lah yang menjadi penyebab tidak tersampaikannya misi perdamaian pada sebagian pemeluk agama.

Aminuddin Hamid, penulis sedang menyelesiakan tesis di CRCS UGM Yogyakarta.