Abdullah Umar Fadlullah Aminuddin: Sang Pengibar Bendera Al-Qur’an dari Kudus

Abdullah Umar Fadlullah Aminuddin: Sang Pengibar Bendera Al-Qur’an dari Kudus

Abdullah Umar Fadlullah Aminuddin: Sang Pengibar Bendera Al-Qur’an dari Kudus

Pada awalnya, ia mempunyai nama Abdullah Umar. Kemudian, setelah menunaikan ibadah haji dan mengasuh pesantren, namanya berubah menjadi KH. Abdullah Umar Fadlullah Aminuddin. Ia lahir di Kudus pada tanggal 16 Februari tahun 1929 M. Ayahnya bernama Baidhawi dan ibunya bernama Zari’ah. Jika dilihat silsilah keturunan dari jalur ibunya, Abdullah Umar merupakan keturunan dari Sunan Kudus yang ke-13.

Di saat usianya masih 5 bulan, Abdullah Umar sudah harus kehilangan sosok ibunya. Tidak lama setelah itu, pada usia 9 tahun, ia harus menyusul kehilangan sosok ayahnya. Dengan demikian, ia sudah menjadi anak yatim-piatu di usianya yang masih tergolong sangat muda. Sepeninggal kedua orang tuanya, ia kemudian dirawat dan diasuh oleh neneknya bernama Nyai Masrinah yang dalam kesehariannya hidup dengan segala kesederhanaan.

Namun, hal tersebut tidak membuat Abdullah Umar kecil patah semangat terutama dalam hal menuntut ilmu. Buktinya berkat dorongan kuat dari neneknya, ia dapat masuk ke salah satu madrasah tertua di Kudus yang didirikan oleh KH.R. Asnawi dengan nama Madrasah Qudsiyah yang terletak di sebelah barat Masjid Menara Kudus.

Di Madrasah Qudsiyah inilah awal mula perjuangannya dalam mencari ilmu. Abdullah Umar sempat belajar langsung kepada KH. R. Asnawi. Adapun di antara teman seangkatannya yang sering diajak berdiskusi dalam berbagai pelajaran adalah KH. Sya’roni (Kudus) dan KH. Hasan Mangkli (Magelang).

Abdullah Umar adalah salah satu murid yang paling sederhana di kelasnya. Ia mencatat pelajaran dengan berbekal buku bekas yang sangat usang. Bahkan menurut sebagian keterangan disebutkan bahwa ketika tidak ada lagi ruang untuk mencatat, ia harus mencuci bukunya agar tintanya hilang kemudian dijemur agar bisa digunakan untuk mencatat pelajaran yang lain. Ia membuktikan bahwa keterbatasan bukanlah sebuah halangan untuk mencapai suatu impian.

Salah satu kebiasaan menarik yang dilakukan oleh Abdullah Umar adalah pergi ke Masjid Menara Kudus sepulangnya dari madrasah. Siapa sangka, hal yang dilakukannya di dalam masjid tersebut adalah menghafalkan Al-Qur’an. Pada waktu itu, tak ada seorang pun yang mengetahuinya karena ia sendiri tidak pernah menyetorkan hafalannya. Namun, lambat laun tapi pasti rahasia ini diketahui oleh neneknya dan ia disuruh untuk segera menyetorkan hafalan yang telah dimilikinya kepada KH. Muhammad Arwani.

Sejak saat itulah ia menjadi murid dari KH. Muhammad Arwani dan mulai rajin menyetorkan hafalannya dari mulai juz 1 sampai dengan juz 30. Hingga pada akhirnya ia mendapatkan sanad Al-Qur’an yang bersambung sampai dengan Nabi Muhammad Saw. Berikut sanad lengkapnya:

KH. Abdullah Umar dari KH. Muhammad Arwani dari Syekh Muhammad Munawwir dari Syekh Yusuf ad-Dimyati dari Syekh Said ‘Antar dari Imam Ahmad al-Haruni dari Imam Muhammad Ibn al-‘Izz ad-Dimyati dari Abdullah Luth dari Syekh Luth Ayyub dari Syekh Abduh an-Nuqas dari Syekh Abduh al-Fawwal dari Syekh Muhammad Thal dari Imam Muhammad al-Hamshan dari Syekh al-Isqati dari Syekh Hasan al-‘Awadil dari Syekh Ahmad ibn Abdurrahman dari Syekh Abdurrahman as-Syafi’i dari Syekh Ahmad ibn Umar dari Syekh Abdul Karim dan Syaikh Ali al-Muhaimi dari Syekh Ismail dari Syekh Ali ar-Ramli dari Syekh Muhammad al-Baqriy dari Syekh Abdurrahman al-Yamani dari Syekh Abdul Haq as-Sinbathi dari Syekh Sahadzah al-Yamani dari Imam Nashiruddin at-Thablawi dari Syekh Muhammad Ibn Ja’far dari Syekh Ahmad al-Masiriy dari Syekh Muhammad Ibn Al-Jazra dari Syekh Muhammad ibn Ahmad dari Syekh Ibn Ja’far Ahmad Ibn Yusuf dari Syekh Abi al-Hasan Ali ibn Umar dari Al-Qadhi ibn al-Ahwash dari Syekh Sulaiman ibn al-Najah dari Abi Amru ad-Dani dari Abi al-Hasan Thahir dari Abi al-Abbas Ahmad al-Asnan dari Ibn as-Shabbagh dari Hafsh ibn Sulaiman dari ‘Ashim Ibn Abi an-Nujud dari Abdurrahman dari Utsman ibn Affan dari Ubay ibn Ka’ab dari Muhammad SAW.

Pada tahun 1947 Abdullah Umar harus pindah ke kota Semarang tepatnya di kampung Ngabangan dikarenakan terjadi pertempuran antara pejuang RI melawan tentara NICA di Kudus. Pada saat itu, ia masih berumur 18 tahun dan tidak membawa bekal apapun selain pakaian yang melekat pada tubuhnya. Kemudian ia mencari mushola untuk sholat dan memohon petunjuk kepada Allah SWT. Akhirnya atas izin warga setempat ia diperbolehkan untuk tinggal di mushola tersebut untuk sementara waktu.

Di mushola kampung Ngabangan tersebut, Abdullah Umar mengadakan semaan dan pengajian Al-Qur’an yang pada awalnya hanya diikuti oleh anak-anak. Hingga lama-kelamaan diikuti juga oleh orang tua. Kemudian pada tahun 1950 bertepatan dengan usianya yang ke 21 tahun, Abdullah Umar menikah dengan Sau’dah yang merupakan putri kedua dari Kiai Sahli. Berangkat dari pernikahan inilah ia memutuskan untuk menetap dan berdakwah di Semarang.

Selanjutnya pada tahun 1956, ia dipercaya sebagai “Rais Jam’iyyah al-Qurra’ wa al-Huffadh” kota Semarang hingga akhir hayatnya. Sejak saat itu, semaan dan pengajian al-Qur’annya mulai bertambah ke luar kota seperti Kendal, Demak, dan Salatiga. Pada tahun 1961, ia diminta untuk mengajar di Badan Wakaf hingga pada tahun 1972 ia di angkat menjadi kepala KUA Semarang. Delapan tahun setelah itu tepatnya pada tahun 1980, Abdullah Umar mendirikan Pesantren Tahfidh Al-Qur’an.

Meskipun Abdullah Umar mempunyai kesibukan dan jadwal pengajian yang sangat padat. Namun, ia masih sempat untuk menulis karya dalam bentuk tulisan. Bahkan beberapa karyanya sangat monumental. Di antara karyanya dalam bidang al-Qur’an adalah: Musthalah at-Tajwid fi Al-Qur’an al-Majid (kitab tentang tajwid berupa nadham), Al-Misbah an-Nuraniyyah fi Nudhum al-Ahadits al-Qur’aniyyah (kitab tentang keutamaan al-Qur’an berupa nadham), Risalah al-Qurra wa al-Huffadh fi Gara’ib al-Qira’ah wa al-Alfadz (kitab berbahasa jawa tentang cara membaca Al-Qur’an yang kerap keliru dibaca oleh orang awam), dan al-Jawahir al-Furqaniyyah ‘Ala Nudhum Taysir al-Gara’ib al-Qur’aniyyah (kitab berbahasa Arab tentang masalah yang sama dengan sebelumnya).

Dalam bidang fiqih ia mempunyai karya al-Kawakib ad-Duriyyah di Nudhum al-Masa’il al-Khilafiyah (kitab tentang beberapa masalah yang diperselisihkan di kalangan umat Islam). Adapun dalam bidang doa, ia mempunyai karya berjudul al-Ad’iyah as-Sya’biyyah (kitab tetang kumpulan doa-doa tradisional), al-Mujahadah ar-Rizqiyyah Li al-Mustarziqin (kitab tentang tata cara bermunajat agar dilapangkan rezekinya), dan bausi al-Arzaq (kitab yang berisi kumpulan doa untuk memperluas rezeki).

Di samping itu, untuk membuktikan kecintaannya terhadap Baginda Nabi Muhammad SAW. Abdullah Umar mempunyai belasan shalawat yang sudah dicetak dan tersebar di tengah-tengah masyarakat, di antaranya: Shalawat Li Hushuli al-Maram, as-Shalawat al-Qur’aniyyah, Shalawat Padang Ati Kan Kecerdasan, Shalawat Mahal al-Qiyam, as-Shalawat al-Hajjiyah, as-Shalawat ar-Rizqiyyah dan Shalawat Nahdhiyyah.

Berkat karya-karyanya yang luar biasa, terutama dalam bidang al-Qur’an. Tak mengherankan jika Abdullah Umar diberikan julukan oleh Syekh Muslih Abdurrahman Mranggen dengan sebutan “Sang pengibar bendera al-Qur’an” (Hamilu liwa’i al-Qur’an). Pada akhirnya, tanggal 16 Maret 2001, ia kembali ke haribaan Allah Yang Maha Esa dan dimakamkan di Pegandon, Kendal di samping makam istrinya. Ribuan orang datang untuk mengantarkan ke tempat peristirahatan terakhirnya. Walaupun ia telah tiada namun karyanya akan selalu abadi sampai kapanpun.

Terakhir, ketika masih hidup ia pernah berwasiat kepada putra-putri dan santri-santrinya, sebagaimana berikut:

Pertama, Menghafal al-Qur’an jangan digunakan untuk mencari dunia. Carilah akhirat maka dunia akan ikut. Jika yang dicari dunia, maka akhiratnya akan terlantar.

Kedua, jika diundang masyarakat untuk membacakan al-Qur’an (semaan) jangan sampai memberi tarif harga.

Ketiga, Masyarakatkanlah al-Qur’an dan al-Qur’an-kanlah masyarakat

Keempat, Jika membangun pesantren, janganlah berfikir untuk mencari santri yang banyak. Berjalanlah apa adanya. Berapapun santri yang datang terima dan didiklah dengan sungguh-sungguh dan penuh keikhlasan mengharap ridha Allah SWT. Satu dua santri yang dididik dengan baik akan lebih baik dari ribuan santri yang tidak diurus dengab baik.

Kelima, Belajarlah membaca dan memahami al-Qur’an. Jika sudah bisa, ajarkanlah pada orang lain. Jika melakukan hal itu, kalian tergolong umat Nabi Muhammad SAW yang baik.