Kisah Sufi: Ketika Ibrahim bin Adham Menggadaikan Buku untuk Makan

Kisah Sufi: Ketika Ibrahim bin Adham Menggadaikan Buku untuk Makan

Kisah Sufi: Ketika Ibrahim bin Adham Menggadaikan Buku untuk Makan
Ilustrasi seseorang yang sedang merenungi diri.

Ibrahim bin Adham adalah seorang ulama sufi yang sangat kaya raya. Namun, suatu ketika, ia memilih untuk meninggalkan semua kekayaan yang ia miliki dan menyerahkannya kepada seseorang untuk diurus.

Ia meninggalkan desanya dan hidup di suatu daerah bersama salah seorang muridnya. Untuk mencukupi kebutuhan hidup, ia bekerja sebagai seorang buruh di ladang.

Saat itu, tibalah waktu gajian setelah ia bekerja memanen tanaman-tanaman di ladang. Ibrahim mengajak si murid pergi ke seorang tukang cukur dan bekam. Orang ini sangat membenci Ibrahim dan muridnya.

Melihat kedatangan Ibrahim dan si murid, orang ini menunjukkan wajah sinis dan tidak senang. Bahkan tanpa tedeng aling-aling, di hadapan para pelanggannya, orang ini dengan tanpa beban menampakkan dan menyatakan kebenciannya itu.

 “Tidak ada yang saya benci melebihi dua orang ini. Hanya saya yang berkenan melayani mereka,” ujar tukang cukur-bekam itu.

(Kalimat ini diucapkan lantaran Ibrahim adalah orang miskin. Oleh karenanya, si tukang cukur-bekam menilai, Ibrahim tak memiliki harta untuk membayar jasa cukur-bekam yang ia terima, pen).

Dengan tanpa merasa bersalah, si tukang cukur-bekam ini mengabaikan kehadiran Ibrahim dan si murid dan tetap melayani para pelanggannya. Hingga, kini, tak ada lagi pelanggan yang akan dilayaninya.

“Kalian mau apa?,” tanya tukang cukur-bekam.

Ibrahim menyatakan keinginannya agar ia dicukur dan dibekam. Berbeda dengan si murid. Ia tidak lagi berhasrat untuk cukur dan bekam karena terlanjur jengkel dengan perlakuan tidak tidak baik kepada gurunya tersebut.

Setelah dicukur dan dibekam, Ibrahim menyuruh si muridn untuk membayar dengan semua uang yang dibawa: dua puluh dinar. Merasa uang segitu terlalu banyak sebagai upah, si murid mengajukan pertanyaan.

“Guru, mengapa engkau serahkan semuanya? Ini adalah hasil kerja kerasmu menjadi buruh di musim panen dan di bawah terik matahari yang panas itu,” kata si murid menunjukkan kebingungannya.

“Sudah lakukan saja apa kataku. Serahkan semuanya!. Orang seperti ini perlu diberi pelajaran agar tidak lagi meremehkan orang miskin,” Ibrahim memerintahkan.

Keesokan harinya, karena sama sekali tak memiliki uang, Ibrahim berniat menggadaikan buku-buku miliknya dan membelikan uangnya itu dengan makanan. Ibrahim menyuruh si murid untuk beragkat.

Si murid pun pergi untuk melakukan perintah sang guru.

Dalam perjalanan, ia bertemu dengan seseorang (Fulan, sebut saja begitu) yang membawa banyak harta. Tidak tanggug-tanggung, yang ia bawa adalah kuda dan keledai yang mengakut peti-peti berisikan uang sekitar enam puluh ribu dinar.

Kepada si murid, Fulan menyatakan ingin bertemu dengan seorang yag bernama Ibrahim bin Adham. Ia tidak sadar dan tidak tahu bahwa yang ia temui adalah murid sekaligus pelayan Ibrahim.

Singkat cerita, Fulan pun bertemu dengan Ibrahim bin Adham.

Ketika itu, Ibrahim masih mengenakan pakaian ala buruh. Melihat hal demikian, Fulan menagis dan berkata, “Tuan, mengapa engkau memilih hidup seperti ini dan meninggalkan kekayaan-kekayaanmu?”.

 “Diam!. Apa yang terjadi dan mengapa kamu ke sini?,” tanya Ibrahim tegas.

“Orang yang mengurus hartamu meninggal. Budak-budakmu membawa lari harta-hartamu sebanyak yang mereka mampu bawa. Dan aku pun juga membawa sebisaku, sebagaimana yang engkau lihat. Aku ini adalah budakmu. Aku ingin bisa beribadah dan tinggal menetap,” jawab Fulan menjelaskan.

Tak hanya itu, Fulan juga menyatakan kegundahannya karena ada fatwa dari para ulama bahwa ibadah budak tidak sah kecuali dengan izin tuannya. Atas alasan itulah, ia ingin menemui Ibrahim dan mengabdi kepadanya.

Melihat ketulusan dan kejujuan Fulan, Ibrahim akhirnya memerdekannya. Seluruh harta yang dibawa itu juga diberikan kepadanya Fulan untuk disedekahkan kepada orang-orang yang membutuhkan.

Setelah Fulan dipersilakan pergi, Ibrahim mempersilahkan si murid untuk melanjutkan kembali tugasnya: menggadaikan buku untuk makan. Subhanallah.

Kisah di atas ditulis oleh Ibnu Jauzi dalam kitab ‘Uyun al-Hikayat. Selain kesederhanaan Ibrahim bin Adham, kita juga bisa belajar tentang totalitas dalam mengabdi. Dalam kisah di atas, terbaca dengan jelas bagaimana sikap Fulan yang ingin mengabdi kepada Ibrahim bin Adham sampai ia rela mencari dimana keberadaan Ibrahim.

Menagabdi, kepada apa dan siapa saja, adalah dengan cara melakukan hal-hal yang menjadi perintahnya. Serta meninggalkan hal yang menjadi larangannya. Mengabdi harusnya dilakukan dengan sikap totalitas dan tidak setengah-setangah.

Dalam mengabdi (ibadah) kepada Allah, seorang muslim harus bertakwa, yakni melakukan perintah dan menjauhi laranganNya. Begitu juga dengan hal lainnya, misalnya, rakyat dan Negara, orangtua, dan lain sebagainya. Wallahu a’lam.

 

Sumber:

Ibn al-Jauzî, Jamâluddîn Abi al-Farj bin. ’Uyûn al-Hikâyat. Beirut: Dâr al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 2019.