Mengapa Ada Perempuan Tertarik Gerakan Terorisme?

Mengapa Ada Perempuan Tertarik Gerakan Terorisme?

Apa yang menyebabkan perempuan juga tertarik bergabung dalam kelompok teroris?

Mengapa Ada Perempuan Tertarik Gerakan Terorisme?

Sejak munculnya Islamic State (IS) atau yang lebih dikenal dengan sebutan Islamic State of Syria and Iraq (ISIS) di Indonesia, keberadaan perempuan dalam kelompok terorisme semakin menjadi sorotan. Hal tersebut terjadi karena peran perempuan yang menguat seperti turut serta pergi ke Suriah, menjadi pelaku aksi kekerasan terorisme, melakukan penggalan dana, merekrut orang-orang dan lain sebagainya. Alasan lainnya adalah karena sorotan terhadap perempuan semakin meningkat juga. Laura Sjoberg menyebutnya dengan istilah hypervisibility, karena munculnya ratusan juta hasil pencarian dari Google mengenai perempuan dan ISIS. Dimulai dari perempuan korban ISIS, perekrut perempuan ISIS, hingga perempuan yang bertarung bersama ISIS.  Berbeda dengan zaman al-Qaeda di mana perempuan hampir tidak pernah disebut keberadaan dan perannya. Padahal, keberadaan perempuan di dalam kelompok teroris sudah ada sejak kelompok teroris itu terbentuk.

Banyak peneliti yang kemudian mencoba untuk melihat alasan yang mendorong perempuan untuk bergabung dengan kelompok terroris. Jika pada masa al-Qaeda alasan bergabungnya perempuan lebih identik dengan alasan personal yang cenderung pasif dan tak berdaya, maka berbeda dengan era ISIS, perempuan mulai dilihat sebagai makhluk yang memiliki self-agency dan motivasi yang hampir sama dengan laki-laki. Hal ini terjadi mungkin saja karena kemunculan ISIS berbarengan dengan meningkatknya penggunaan terhadap media sosial dan online chat forum. Oleh karena itu, perempuan bisa secara bebas mengutarakan keinginan dan harapan mereka. Berbeda misalnya, ketika zaman al-Qaeda, dimana penggunaan internet belum sepopuler sekarang. Sehingga akses peneliti terhadap informasi wanita sangat terbatas.

Perempuan dan Alasan Personal

Mia Bloom dalam bukunya Bombshell: Women and Terrorism, bergumen bahwa perempuan yang menjadi pelaku bom bunuh diri biasanya cenderung termotivasi oleh 4R, yakni revenge, keinginan untuk balas dendam atas kematian anggota keluarganya; redemption, keinginan untuk bertaubat dari dosa masa lalu; relationship, memiliki hubungan dengan para teroris, baik disebabkan oleh ayah atau suami; dan respect, keinginan untuk dihargai dan dihormati dari komunitas mereka. Pengalaman buruk perempuan seperti kekerasan domestik atau seksual, ketidakhadiran orang tua, diskriminasi dan rasisme serta keluarga yang bermasalah ditenggarai menjadi faktor utama perempuan untuk bergabung dengan kelompok terorisme (Amy-Jane Gielene, 2018).

Dalam hal ini, perempuan seringkali dilihat termotivasi oleh alasan pribadi, bukan ideologi atau politik. Berbeda dengan laki-laki, seperti contohnya Imam Samudra, sosoknya digambarkan sebagai seseorang yang melakukan tindakan teroris karena ideologi yakni dia menginginkan adanya negara berbasis hukum Islam. Padahal, menurut penelitian Ischaroff, laki-laki juga seringkali termotivasi untuk melakukan serangan karena alasan pribadi untuk membalas dendam terhadap kematian kelurga dan teman-teman mereka. Sehingga, alasan-alasan personal bukan hanya berlaku bagi perempuan ketika mereka memutuskan untuk bergabung dengan kelompok terorisme atau menjadi pelaku terror.

Alasan yang Beragam

 Walaupun alasan personal bisa berlaku pada kasus tertentu, namun tidak semua perempuan bergabung dengan kelompok teroris karena hanya alasan personal. Perempuan yang bergabung dengan ISIS menunjukkan bahwa mereka bergabung dengan beragam alasan, diantaranya, kewajiban beragama, perasaan persaudaraan, keinginan untuk merasakan pengalaman, dan rasa ketidakadilan terhadap apa yang tertimpa oleh komunitas Muslim di dunia (Erin Marie Saltman dan Melanie Smith, 2015).

Dalam konteks Indonesia, perempuan pendukung ISIS menunjukkan bahwa mereka termotivasi oleh ideologi, bahkan beberapa di antara mereka menunjukan keinginan untuk merubah sistem politik. Artinya, perempuan juga memiliki kesadaran terkait situasi politik yang berkembang di dunia. Sebagai contoh, Dian Yuli Novi, calon pelaku bom bunuh diri perempuan pertama di Indonesia, menunjukan bahwa aksinya didorong oleh ideologi radikal di mana dia percaya dia akan menjadi syahid setelah membunuh orang yang dia anggap ‘kafir’ atau ‘thogut’.

Contoh lain adalah Ummu Shabrina yang menyatakan bahwa motivasinya ke Suriah adalah karena dia ingin hidup di bawah naungan hukum Islam yang dia percayai dapat membawa kesejahteraan hidup. Dia mengekspresikan kekecewaannya terhadap negara Indonesia, yang menggunakan sistem politik demokrasi, tetapi tidak bisa membawa masyarakat kepada kesejahteraan. Dia memuji ISIS yang berhasil melengkapi kebutuhan sandang, pangan, dan papan para ‘warganya’. Hal ini menunjukkan Ummu Shabrina sedang melakukan kritik terhadap fungsi negara yang dia anggap gagal.

Artinya, perempuan memiliki motivasi yang beragam ketika mereka bergabung dengan kelompok teroris. Contohnya, perempuan juga memiliki ketertarikan yang mendalam terhadap ideologi atau tujuan yang hendak dicapai oleh organisasi tersebut, keinginan untuk setara (emancipation), adanya masalah keamanan dan juga paksaan. Para wanita ini juga kerap kali termotivasi oleh politik di mana mereka melihat organisasi teroris sebagi jalan untuk menghentikan penderitaan mereka dan orang di sekitar mereka. Alasan pribadi seperti kebutuhan akan uang juga bisa menjadi hal yang memotivasi seorang perempuan untuk bergabung dalam kelompok teroris (Lori Poloni-Staudinger dan Candice D. Ortbals, 2013).

Terinspirasi?

Alasan perempuan ingin bergabung dengan kelompok teroris bisa juga karena mereka terinspirasi oleh kisah wanita-wanita lain. ISIS seringkali membahas peranan perempuan dalam majalah Dabiq, di mana ada sesi khusus terkait perempuan. Kisah tentang perempuan yang bergabung atau ‘berjuang’ bersama ISIS juga bisa ditemukan dengan mudah di blog ata website pro-ISIS. Sebagai contoh, dalam salah satu website pro-IS, Devi (bukan nama sebenarnya), warga negara Indonesia (WNI) yang pergi ke Suriah pada 2015, digambarkan sebagai sosok yang menginspirasi karena dia rela untuk meninggalkan pekerjaannya dan bergabung dengan ISIS. Hal ini tentu bisa menjadi motivasi bagi wanita-wanita lain yang membaca kisah tersebut untuk meniru hal serupa. Bukan tidak mungkin seseorang bisa terinspirasi dari kisah yang dipasang di internet. Sebagai contoh, akun Facebook Shabran Ya Nafsi memutuskan pergi untuk ke Suriah dan akirnya meninggal di sana setelah terinspirasi dari perjalanan cerita Umm Khadijah.

Persoalan alasan dan motivasi nampaknya adalah persoalan yang kompleks. Seseorang mungkin saja memiliki lebih dari satu alasan ketika dia memutuskan untuk bergabung dengan kelompok teroris. Faktor-faktor yang mempengaruhi individu untuk bergabung dengan kelompok teroris beragam, baik jenis kelaminnya perempuan atau laki-laki. Sehingga tidak tepat untuk menyatakan bahwa faktor tertentu hanya berlaku bagi laki-laki atau perempuan karena pada faktanya tidak ada ketentuan yang bersifat universal yang menyatakan bahwa faktor tertentu hanya berlaku pada gender tertentu.