Benarkah Islam Disebarkan dengan Pedang dan Peperangan?

Benarkah Islam Disebarkan dengan Pedang dan Peperangan?

Benarkah Islam Disebarkan dengan Pedang dan Peperangan?
Ilustrasi perang Khandaq

Prof. Veccia Vagliere, penulis buku Apology of Islam, menganalogikan bahwa Islam seperti mata air yang bersih dan jernih yang mengalir ke tengah-tengah bangsa jahiliyah yang hidup di tengah padang pasir dan jauh sekali dari peradaban pemikiran. Namun dengan keadaan yang seperti itu, Islam mampu memiliki kekuatan dengan salah satu cirinya ialah menguasai daerah meluas dari lautan atlantik hingga tepi pasifik.

Dalam menanggapi keberhasilan penyebaran agama Islam yang begitu cepat, banyak sekali statement yang muncul dari orang orientalis berkaitan dengan Islam disebarkan menggunakan pedang. Peperangan yang terjadi setelah wafatnya Rasul, menjadi salah satu argumentasi mereka.

Argumentasi tersebut jelas ditolak oleh ulama dan orang-orang yang dapat melihat dengan jelas bahwa Islam disebarkan dengan dakwah. Argumentasi tersebut diperkuat dengan nash dalam Al-Qur’an, QS Al-Kafirun ayat 6 :

لكم دينكم ولي دين

“Untukmulah agamamu dan untukkulah agamaku”.

Juga dalam Q.S An-Nahl ayat 125 :

ادع إلى سبيل ربك بالحكمة والموعظة الحسنة وجادلهم بالتي هي أحسن إن ربك هو أعلم بمن ضل عن سبيله وهو أعلم بالمهتدين

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.”

Selain dalil Al-Qur’an juga terdapat argumentasi secara historis bahwa Islam disebarkan melalui dakwan dan jalan damai. Pertama, Ketika di Makkah, Nabi memulai dakwah nya tidak dengan senjata, terbukti bahwa ada beberapa sahabat yang memeluk ajaran islam.

Kedua, saat pasukan Salib datang ke Timur pada masa Khalifah Bani ‘Abbas, banyak pasukan Salib yang masuk Islam karena melihat kepahlawanan sosok Salahuddin Al-Ayubi sebagai cerminan ajaran islam.

Ketiga, Islam tersebar di wilayah Indonesia, Malaysia, dan daerah Asia lainnya. Pada saat itu terjadi persaingan berbagai agama dan ideologi untuk mengisi kepercayaan penduduknya. Untuk mencapai tujuan, umat Kristen menggunakan kolonialisme dan harta. Umat hindu dan Budha menggunakan kebudayaan dan memudahkan penduduk Indonesia. Sedangkan Islam diajarkan dengan damai dan tenang, melalui akulturasi budaya dan toleransi, sehingga banyak penduduk yang memeluk Islam.

Masih banyak lagi bukti historis yang memperkuat argumen bahwa islam disebarkan melalui dakwah. Namun kenyataan bahwa sejarah Islam diwarnai dengan peperangan juga merupakan fakta yang tidak bisa dibantah. Namun, peperangan tersebut bukan semata-mata tujuannya agar banyak orang tunduk dan memeluk islam.

Di antara tujuannya ialah untuk mempertahankan nyawa dan kehidupan kaum muslimin saat itu. Pada masa sebelum hijrah umat Islam memang belum diizinkan untuk berperang. Pada saat itu juga banyak sekali tekanan dan ancaman dari kaum kafir Quraisy, hingga Nabi hijrah ke Madinah kaum kafir Quraisy bertekad untuk ‘menghabisi’ umat Islam.

Saat itulah Allah mengizinkan untuk berperang (QS Al-Hajj ayat 37), tetapi dengan beberapa syarat seperti demi jalan Allah, bukan demi harta, untuk mempertahankan diri, dan tidak berlebihan (QS Al-Baqarah ayat 190). Semua itu menunjukkan bahwa Islam pada dasarnya tidak menyukai peperangan.

Berdasar uraian di atas, tidak ada satu ayat pun atau satu kejadian dalam sejarah Islam yang menunjukkan bahwa Islam disebarkan melalui peperangan (pedang). Perang yang sudah terjadi hanya semata-mata untuk membela diri, mempertahankan jiwa raga, melindungi dakwah, kebebasan beragama Islam, serta melindungi umat Islam dari serangan Romawi dan Persia. (AN)

Wallahu a’lam.