Sikap Nabi Terhadap (bekas) Musuh-musuhnya

Sejak hijrah ke Madinah, kaum kafir Qurays tak pernah berhenti berusaha menyerang dan mencelakai Nabi. Mereka terus mengintai dan mencari cara agar Nabi terbunuh dan kekuatan yang sedang dibangunnya mengalami kelumpuhan. Kaum kafir Qurays, yang ironisnya dimotori oleh orang-orang yang masih terhitung keluarga besar dengan Nabi seperti Abu Jahal dan Abu Sofyan benar-benar menganggap Muhammad sebagai ancaman atas kemapanan kekuasaan mereka di padang pasir Arab.

Di tahun kedua Hijriah, meletus Perang Badr, di mana ratusan kaum muslimin berhasil mengalahkan ribuan pasukan Qurays pimpinan Abu Jahal. Selain Perang Badr terjadi sejumlah bentrokan-bentrokan kecil di perbatasan Makkah-Madinah. Kekalahan kafir Qurays di Badr membuat mereka bersumpah membalas dendam. Maka selang setahun setelah itu, tahun ketiga Hijriyah, mereka menyerbu Madinah. Dipimpin Abu Sufyan, kafir Qurays berhasil mengalahkan pasukan kaum muslimin. Banyak sahabat gugur, termasuk paman Nabi, Hamzah bin Abdul Mutthalib.

Nabi sangat bersedih dengan banyaknya sahabat yg meninggal. Sahabat-sahabat yang masih hidup juga sedih sekaligus murka. Para sahabat lantas meminta Rasulullah untuk mengutuk orang-orang kafir Qurays yang terus berusaha mencelakainya dan telah membunuh banyak sahabat. Namun Nabi menjawab, “Aku sekali-kali tidak diutus untuk melaknat seseorang. Aku diutus untuk mengajak kepada kebaikan dan sebagai rahmat.”

Lalu Rasulullah mengangkat tangannya, menengadah ke arah langit seraya berdoa, ”Wahai Tuhanku, ampunilah kaumku, karena mereka tidak mengetahui.”

Buat Nabi, baik Perang Uhud maupun Perang Badr adalah bentuk perlawanan terhadap kekuatan yang mengancam. Semua dilakukan dengan semangat mempertahankan diri, bukan menghancurkan lawan.

Maka ketika kemenangan telak di fathu Makkah lima tahun berikutnya atau tahun kedelapan Hijriah, tak satu pun kafir Qurays yang memusuhi Nabi ia bunuh. Abu Sufyan dan istrinya, Hindun, yang dikenal sangat membenci Nabi dan berada dibalik pembunuhan Hamzah, dimaafkan, dan lalu masuk Islam. Bahkan Wahsyi, pelaku dan budak yang ditugasi khusus untuk membunuh Hamzah, juga dimaafkan, dan masuk Islam. Karna semua dilakukan bukan dengan semangat ingin menang atau menghancurkan lawan, tapi mengajak dan memperbanyak pengikut agar meninggalkan kehidupan jahiliyah Arab yang penuh diskriminasi dan pemberhalaan—patung-patung dan benda-benda. [SA]

John Doe

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit. Eligendi molestiae id rem iste sed recusandae eaque, ab iure, dicta non, provident autem ratione et esse quod, nisi doloremque consequatur obcaecati.

Comments