Selain Radikalisme, Ada Hantu Bernama Pseudoscience

Selain hantu radikalisme agama, ada satu hantu lagi yang mengganggu tidur nyenyak dan kenyamanan hidup saya: hantu pseudoscience

Hantu yang terakhir ini, sedikit lebih “ramah” daripada hantu yang pertama. Ia tidak tampak garang menakutkan, malah lebih sering terasa konyol dan menggelikan, tetapi mengingat magnitudenya, luasnya area jajahannya, kedua hantu ini sama-sama mengkhawatirkan.

Dan saya khawatir, kedua hantu ini berhubungan. Pada inti dari keduanya, sama-sama ada kesalahan berpikir, sesat logika yang walau mungkin disebabkan oleh beragam faktor, jelas menunjukkan masih banyak hal yang harus diperbaiki dalam sistem pendidikan kita.

Meski saya paling sering menemuui hantu pseudoscience di bidang kesehatan, sebenarnya ia merambah ke banyak sendi kehidupan. Ia misalnya ada di balik dukungan seorang Marwah Daud Ibrahim kepada Dimas Kanjeng, atau pada maraknya tes kepribadian dan inteligensi dengan menggunakan sidik jari, sebagaimana ia ada di gerakan anti vaksin, dan larisnya berbagai pengobatan alternatif.

Satu hal yang saya sadari tidak banyak dipahami banyak orang, bahkan mereka yang sudah mendapat pendidikan tinggi, adalah cara kerja sains.  Bagaimana pengetahuan ilmiah dibentuk sedikit demi sedikit dan disusun satu batu penemuan ke satu batu penemuan berikutnya. Kadang, di tengah jalan, bangunan batu itu ternyata salah konstruksi, sehingga dibongkar dan harus dibangun lagi dari awal. Sains memang lambat dan memakan waktu lama. Mungkin itu sebabnya orang kadang tidak sabar dan mudah membuat klaim-klaim bombastis.

Banyak orang tak paham bahwa satu penelitian tunggal tidak bisa menjadi dasar kebenaran ilmiah. “Sudah ada penelitiannya” adalah kata-kata yang sering saya dengar menjadi andalan orang-orang untuk meyakinkan orang lain bahwa apa yang sedang disampaikannya adalah sahih dan ilmiah.

Banyak pula yang tak paham bahwa seorang tokoh, akademis atau bukan, seberapapun tinggi gelarnya, seberapapun pandai dan meyakinkan bicaranya, seberapapun baik hati dan tak tercela akhlaknya, tak mungkin menjadi sumber segala kebenaran. Ya, dia mungkin benar dalam sebagian hal, tetapi dia mungkin pula salah dalam banyak hal lain. Ya, memang, gagasan bahwa ada seorang semacam nabi di masa modern ini, yang segala titah dan pendapatnya benar serta layak diikuti tanpa dipertanyakan lagi sungguh amat menggoda. Sayang, hal itu bahkan tak berlaku lagi dalam hal agama.

Bagi umat Islam, bukankah sudah ditegaskan bahwa Nabi Muhammad adalah rasul terakhir? Tak ada lagi yang layak didengar sebagaimana kita mendengar sabda beliau. Dengan kata lain, segala fatwa dan ujaran dari selain beliau seharusnya ditanggapi dengan kritis, bukan ditelan mentah-mentah.

Lantas, mungkin ada yang bertanya, bagaimana kita menilai kadar keilmiahan sesuatu? Tidak ada jalan pintas, tidak ada cara instan dan mudah saya kira. Kita harus menilainya dengan sesuatu yang sangat mendasar: melihat dari logika yang dibangun dan dari pengetahuan mengenai bagaimana sesuatu bisa disebut fakta ilmiah. Menerapkan logika ilmiah yang ketat dalam menilai suatu gagasan bukanlah hal yang mudah, karena otak kita sendiri sebenarnya sudah penuh dengan shortcut bahkan untuk hal-hal yang tidak ada hubungannya dengan doktrin.

Shortcut itu dalam psikologi disebut dengan cognitive biases yang menggunakan jalur-jalur beragam emosi dengan tujuan mempermudah tugas pengambilan keputusan. Bias-bias ini banyak dan beragam. Bisa dibilang, logika murni adalah hal yang tidak alamiah. Logika rasional yang tak terpengaruh bias-bias itu adalah hal yang harus kita pelajari dan latih secara sadar.

Bias itulah yang misalnya membuat kita lebih cenderung mempercayai klaim yang dibuat oleh orang-orang yang kita percaya dan hormati ketimbang orang lain yang “bukan siapa-siapa.” Kita tak terbiasa untuk menguji klaim dari segi logikanya semata, apalagi untuk hal-hal yang memerlukan basis pengetahuan tertentu, misalnya basis pengetahuan mengenai anatomi tubuh dan reaksi kimiawi.

Memang logika ilmu pengetahuan itu kadang terkesan bertentangan dengan intuisi alamiah kita. Misalnya saja, logika bahwa memasukkan virus, meski yang telah dilemahkan, dalam tubuh akan membuat kita lebih sehat harus diakui terasa agak aneh. Itu bertentangan dengan pengetahuan intuitif kita. Itu sebabnya, ketika ada argumen-argumen anti vaksin masyarakat awam dengan mudah menelannya, tak sadar akan bangunan riset demi riset yang telah menunjukkan bahwa vaksinasi terbukti sangat bermanfaat dan efektif menangkal atau minimal meringankan dampak dari suatu penyakit menular. Argumen antivaksinasi memanipulasi dengan efektif ketakutan alamiah (bahkan mungkin bawaan lahir) dalam diri manusia untuk memasukkan benda asing dalam tubuh yang selama ini memang berguna untuk menghindarkan tubuh dari penyakit.

Hal lain yang membuat hantu ini demikian mudah menyatroni masyarakat adalah fakta bahwa wawasan kita mengenai fakta-fakta ilmiah ini masih sangat kurang. Berapa banyak lulusan pendidikan tinggi kita yang benar-benar paham cara kerja tubuh? Cara kerja benda-benda alam di sekeliling kita? Hukum-hukum alam yang mengatur kita dan lingkungan kita?

Fisika, kimia, biologi memang diajarkan sejak pendidikan dasar, tetapi lebih sebagai fakta-fakta beku yang tak punya relevansi dengan kehidupan sehari-hari. Bahkan proses menuju pemahaman itu pun jarang disampaikan pada para siswa. Mungkin juga karena para gurunya tidak benar-benar paham. Itu sebabnya teori evolusi masih menjadi salah satu teori yang amat banyak disalahpahami dan digugat, meski teori ini sudah bisa disebut sebagai fakta ilmiah yang sejajar dengan teori gravitasi.

Sesuatu penemuan baru bisa disebut sebagai fakta ilmiah bila ia telah lolos dari berbagai uji, dan terus tegar dalam deraan telaah dan kritikan banyak pihak. Satu atau dua penelitian yang belum masuk ke lingkaran “percakapan” akademis, belum bisa disebut fakta ilmiah, betapapun menjanjikannya. Sains adalah kerja bersama. Kerja keras yang lama bersama-sama.

Untuk itulah kesabaran adalah hal penting. Satu hal lain yang mendesak saat ini saya kira adalah membiasakan diri dan orang-orang terdekat untuk selalu bersikap kritis dan tak lelah menambah wawasan.

Dalam hal ini saya, yang tak dinyana ternyata sangat religius, selalu terkuatkan oleh fakta bahwa ayat pertama yang turun pada Muhammad adalah “Iqra”. Bacalah.

 

John Doe

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit. Eligendi molestiae id rem iste sed recusandae eaque, ab iure, dicta non, provident autem ratione et esse quod, nisi doloremque consequatur obcaecati.

Comments