SHARE

mai.[:id]Beberapa hari yang lalu penulis turut terlibat dalam sebuah forum diskusi dengan Hisanori Kato, profesor asal negeri Sakura, Jepang. Ia adalah seorang peneliti yang menulis buku ‘Islam di Mata Orang Jepang’. Di tengah-tengah diskusi, ada seseorang bertanya: Bagaimana orang Jepang memandang Islam?

Menurut pengajar di Chuo University itu, Islam belum begitu dikenal secara luas di negeri tersebut. Namun baginya, Islam merupakan agama cinta dan damai. Ia mengambil kesimpulan tersebut setelah melakukan banyak pertemuan dengan tokoh Islam, mulai yang dikenal paling radikal hingga yang paling liberal. Hanya saja, muncul kekhawatiran akan adanya Islamophobia dengan banyaknya kasus teror mengatasnamakan agama salam alias perdamaian ini.

Di Jepang, Islam sebenarnya bukanlah ‘pendatang baru’ yang muncul belakangan. Sejarah Islam di Jepang sudah dimulai sejak sebelum perang dunia bergelora. Pada tahun 1928 telah dimulai pembangunan masjid pertama yaitu masjid Kobe yang diarsiteki seorang warga Ceko bernama Jan Josef Švagr. Masjid tersebut kemudian resmi dibuka dan digunakan sebagai pusat aktivitas keagamaan pada tahun 1935.

Meskipun sudah ada sekitar 90 tahun, Islam belum begitu dikenal di Jepang hingga saat ini. Seorang teman penulis yang baru pulang dari Jepang bercerita, bahkan banyak masyarakat Jepang yang tidak percaya jika Indonesia merupakan negara dengan jumlah muslim terbanyak di dunia. Sebagian yang mengenal Islam masih memandang bahwa Islam adalah Timur Tengah.

Saat bertemu dengan peneliti Mitsuo Nakamura, teman tersebut bertanya hal yang sama: bagaimana orang Jepang memandang Islam? Nakamura menjawab dengan penggambaran bahwa Islam bagi orang Jepang ibarat kertas putih yang masih bersih. Tinggal bagaimana umat Islam menulis narasi di kertas tersebut.

Di tengah bergolaknya dunia Timur Tengah sebagai pandangan umum dunia mengenai Islam, Islam damai a la Indonesia menjadi harapan banyak kalangan untuk membawa Islam kembali ke jalur kejayaannya. Islam yang toleran, mengayomi kaum minoritas, serta menghormati perbedaan pandangan adalah kunci peradaban Islam bisa berjaya kembali.

Namun umat Islam saat ini tengah diuji dengan berbagai fitnah yang membenturkan antara satu faham dengan faham lainnya. Merasa benar sendiri dengan mengafirkan dan menyerang pihak lainnya bukanlah ajaran peradaban umat Islam. Sebab Rasulullah pernah bersabda bahwa perbedaan pendapat antara umat Islam adalah rahmat.

Di forum diskusi beberapa saat yang lalu itu, Kato bercerita mengenai pertemuannya dengan Abu Bakar Ba’asyir yang dikenal radikal. Saat itu, ia membawa koran asal Australia yang menulis Ba’asyir akan memukul orang non-muslim yang ditemuinya. Ba’asyir pun bertanya: Apakah kamu yang non-muslim sudah saya pukul? Bagi Ba’asyir, sebagaimana diungkapkan Kato, kewajiban umat muslim adalah mengajak orang kepada Islam. Namun tidak boleh dengan cara memaksa. Laa ikraaha fi ad-din, tidak ada paksaan dalam beragama.

Banyak orang Jepang yang mengagumi Islam setelah mengenalnya karena belajar agama ini sebagai agama yang humanis dan penuh kasih sayang. Akan tetapi, radikalisme bisa mengubah pandangan bukan hanya orang Jepang, tetapi warga negara lain yang baru saja ingin belajar tentang Islam.

Maka perlu digaungkan kembali apa yang pernah dikatakan oleh Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Kalau ada orang yang menjelekkan nama Islam, mari kita didik agar membawa nama Islam yang damai. []

NB: Artikel ini hasi kerjasama islami.co dan ;(function($) { $(".hiderestpost").hide(); if( $(".hiderestpost").length ) { $("#showmore").on("click", function(e) { e.preventDefault(); $(".hiderestpost").show(); $(this).parent().remove(); console.log("OK"); return false; }); } else { console.log("something error"); } })(jQuery);