Konsorsium Pemuda Islam Tolak Politisasi Agama

Ciputat– Forum Komunikasi Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) /Dewan Eksekutif Mahasiawa (DEMA) Perguruan Tinggi Agama Islam Se-Indonesia menghimbau agar masyarakat tidak melakukan tindakan yang dapat menciderai nilai-nilai pancasila.

Selain itu, mereka juga mengajak semua pihak untuk tidak menggunakan agama sebagai alat politik. Sebab, kata mereka, jika agama dijadikan alat politik, isu Suku, Ras dan Agama kerap muncul terlebih setiap berlangsungnya pemilihan kepala daerah.

Sabagaimana rillis yang dikirim ke meja redaksi pada Jum’at 24/11, forum ini juga menyinggung soal aksi damai yang dihelat pada 4 November lalu.

Menurut lembaga yang merepresentasi mahasiswa dari kampus-kampus islam se-Indonesia, aksi damai yang dilakukan oleh beberapa ormas islam pekan lalu cenderung melukai identitas bangsa Indonesia sebagai bangsa yang menjunjung tinggi keberagaman.

Selain itu juga berpotensi memunculkan (lagi) luka lama berupa primordialisme dan sektarianisme.

“Islam seharusnya hadir dalam wajah yang mampu merekonsiliasi alam semeata (khususnya Indonesia) tanpa merendahkan agama lain. Pemeluk- pemeluk islam selazimnya menjadi tauladan yang meneduhkan amarah, mendudukkan persoalan dengan kepala dingin, melakukan tabayyun, tapi tentunya juga mengishlahkan pihak-pihak yang berseteru. Bukan malah menjadi salah satu pihak yang berseteru,” terang BEM PTAI melalui rillisnya.

Rillis yang disepakati saat Konsorsium Pemuda Islam bertajuk “Merajut Kebersamaan untuk Harmoni Bangsa” di Ciputat, Tangerang Selatan, Kamis, 23/11, itu juga menyebut pentingnya peran pemerintah untuk mengurai konflik secara tegas, cepat dan tegas. Sebab konflik seperti itu mengancam keutuhan NKRI. Oleh forum ini juga, pemerintah diminta melakukan bina situasi dan kondisi yang harmonis. (Nurhidayat)

John Doe

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit. Eligendi molestiae id rem iste sed recusandae eaque, ab iure, dicta non, provident autem ratione et esse quod, nisi doloremque consequatur obcaecati.

Comments