Ada Apa dengan Teriakkan Allahu Akbar dari Bung Tomo?

Ada Apa dengan Teriakkan Allahu Akbar dari Bung Tomo?

Kutipan ceramah Habib Jamal Bin Toha Baagil

Bung Tomo, dialah salah satu aktor penggerak para pejuang dalam pertempuran 10 November 1945 di Surabaya. Beliau berhasil “membakar” semangat arek-arek Surabaya untuk melawan tentara Inggris dan NICA-Belanda, yang ingin kembali menduduki Tanah Air setelah dikalahkan Jepang.

Bung Tomo dikenal sebagai orator ulung. Hal itu, dibuktikannya Radio Republik Indonesia (RRI) dengan menggelorakan semangat perjuangan melawan penjajah di Surabaya. ‘Allahu Akbar! Merdeka!’ Itulah pekik dahsyat Bung Tomo yang ia sisipkan dalam pidatonya.

Read More

Tetapi tahukah generasi muda sekarang ini dibalik pemilihan kata ‘Takbir’ yang disisipkan di dalam pidatonya !?!?

Bung Tomo tak sembarangan memilih kata ‘Takbir’ dalam pidatonya. Pertempuran di Surabaya pada 10 November 1945 dalam rangka mempertahankan tanah air dari penguasaan kembali Belanda dan pihak asing lainnya sesungguhnya tidak dapat dipisahkan dari seruan jihad oleh para ulama yang dipimpin KH. Hasyim Asy’ari. Sebuah cerita mungkin semakin memperjelas mengapa Bung Tomo memilih pekik Takbir sebagai kata pendobrak dalam pidatonya.

Sebelum 10 November itu, ternyata Bung Tomo menemui Hadrotusyeikh KH Hasyim Asyari, Rais Akbar Nahdlatul Ulama kala itu. Beliau meminta izin membacakan pidato yang merupakan manifestasi Resolusi Jihad yang sebelumnya disepakati oleh para kiai NU, jadi pidato tersebut bukan pidato biasa apalagi konon kata ‘Takbir’ dalam pidato tersebut adalah ijazah langsung Hadrotusyeikh KH Hasyim Asyari yang sanadnya bersambung kepada Para Ulama guru-guru beliau, bersambung kepada para Tabi’in رضي الله عنهم, bersambung kepada para Sahabat Nabi رضي الله عنهم, Hingga akhirnya bersambung sanadnya sampai kepada Rasulullah ﷺ.

Di sinilah bagaimana kita bisa melihat pentingnya sanad, mempunyai hati yang bersambung sampai kepada Rasulullah ﷺ.

Faktanya, pidato menggelora Bung Tomo membuat semangat heroisme para pejuang di lapangan semakin mantap. Sebab, dalam tradisi Islam, penggunaan takbir untuk mempertahankan tanah air sama halnya dengan panggilan perang suci. Meski bersenjata seadanya, rakyat dengan gagah berani perang secara terbuka untuk merdeka.

“Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar!” Merdeka! Itulah pekik takbir Bung Tomo dalam pidato legendaris di Surabaya. Pidato yang selalu dikenang, bahkan setelah kematiannya di Padang Arafah makkah pada 7 Oktober 1981. Bisa dikatakan, Indonesia merdeka lantaran pekik kalimat takbir itu, dan bukan yang lain, karena secara logika tidak bisa dibayangkan bagaimana tentara penjajah yang bersenjata lengkap dan menggunakan alat perang yang serba canggih bisa dikalahkan hanya dengan bambu runcing dan alat perang seadanya.

Semoga kita menjadi bangsa yang tidak melupakan sejarah perjuangan para pahlawan. Dengan demikian, kita bisa mewarisi semangat perjuangan dalam mengisi kemerdekaan di negeri tercinta ini.
.
TAKBIR !!!⁠⁠⁠⁠